"Kabar buruk, kabar buruk!" kata suami heboh pada suatu sore di awal tahun baru sekolah.
Aku pikir dia hanya bercanda. Perasaan masa-masa penerimaan siswa baru sudah berakhir, unas juga belum karena baru saja masuk minggu kedua.
Lalu, ditaruhnya beberapa kertas putih ditanganku.
Tertera undangan dari PWM dan British Council, juga tidak ketinggalan surat tugas dari sekolah tempat suami mengajar.
Nada-nadanya kok tidak enak....
Tiga hari.
Menginap.
Tidak pulang.
Sampai Ahad sore.
Itu baru namanya kabar buruk.... Bakalan tidak bisa kemana-mana nih.
Kugaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Gimana?" tanyanya.
Apanya yang gimana. Jelas-jelas dapat surat tugas.
Aku tidak menjawab.
Hanya manyun yang artinya Apa tidak bisa menolak? Apa tidak ada yang lain? Kan kemarin sudah?
Lagian, dari British Council masa ditolak? Dia-nya aja seneng!
Well, Bahkan Saturday Night-pun jadwalnya padat.
"Ada bonus acara Ahad dipadatkan enggak?" tanyaku lewat sms.
Mau telpon tidak berani.
Alasan pertama takut suami dipelototin orang se ruangan. Kasihan dong! Alasan kedua pasti hp disilent yang jelas apapun yang masuk bakal dicuekin. Jadi percuma saja!
"Sorry, enggak ada je."
Langsung kumasukkan baju ganti Zay, susu, dot, buku cerita dan pernak-perniknya. Kumasukkan dalam tas gede.
Waktunya mudik...! -lintas pulau dan samudera
Pukul 8 malam kubawa satu tas gede yang berisi kerjaanku yang belum beres plus dua tas gede pula yang kutenteng dengan satu tangan, yaitu tangan kanan. Anakku kubungkus dengan jaket hangatnya, kuberi topi di kepalanya yang mungil dan kupakaikan sandal jepit kesayangannya. Kugandeng dia dengan tangan kiriku yang bebas.
"Ayo nak, waktunya mudik!"
Sekali lagi kutoleh rumah tinggal kami yang kini tak berpenghuni.
Kami berjalan dengan pelan meninggalkannya.
...................................................................................................................................................................
Setelah sekian menit berjalan ~lebih tepatnya kurang dari 5 menit~ kami memutuskan untuk berhenti. Kasihan anakku, malam-malam masih harus berjalan kaki.
Saatnya untuk istirahat.
Mana tidak ada angkutan yang lewat, pula.
Kulepaskan gandengan tanganku, agar anakku dapat istirahat dengan nyaman. Tiba-tiba anakku lari dengan kencang.
"Eit, jangan lari nak, nanti ketabrak, teriakku panik! Tunggu!"
....................................................................................................................................................................
"Ti, Uti...," suaranya yang masih khas anak-anak bergema sambil membuka pintu.
"Lha, kirain udah bobok," jawab uti zayyan sumringah.
Ooow, iya.
Mudik kami kan hanya 200m saja.....