Sunday, July 31, 2011

Ramadhan is coming.....


Kami sekeluarga mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa.... 
Semoga umur kita disampaikan sampai dengan akhir Ramadhan ini dan semoga Ramadhan tahun ini menjadi berkah untuk kita semua.
Semoga kita menjadi manusia-manusia yang unggul pada bulan yang penuh dengan tantangan, penuh ampunan, dan penuh rahmat ini.
Semangat, semangat, semaangat!


Mari kita berlomba-lomba dalam beramar ma'ruf nahi mungkar, mumpung banyak teman. Bila di hari-hari biasa kita malas-malasan, ayo pada bulan ini kita semangat-semangat-semangat!
 

MARHABAN YA....RAMADHAN

Saturday, July 23, 2011

Setelah Bertahun-tahun Mengingkari (sebuah pengakuan)

Kisah ini berawal ketika pada suatu pagi, saya, suami, dan anak laki-laki kami pergi ke sebuah pasar tradisional yang jaraknya kurang lebih 500m dari rumah.
Keperluan kami sangat jelas.
Membeli gudeg dan sambel di dalam pasar, di tempat embah-embah yang konon sudah ada sejak zaman bahola. 
Dengan nasi yang masih mengepul asapnya, dibungkus dengan daun pisang (dulunya daun jati, paling sekarang daun jati  mahal). 
Yang terpenting adalah rasanya yang  yummy dengan pedas yang terasa wow di lidah.
Singkatnya, kalau liburan, kadang kami bertiga jalan-jalan untuk sekedar mencari cita rasa masakan tradisional yang hanya ada di pasar tradisional. 
Gudeg banyak, tapi bila yang jual bukan embah-embah rasanya menjadi kurang enak, kurang berani ngasih bumbu!
Ternyata, 
Di tempat itulah kami bertemu dengan tetangga.
Tepat pada saat kami menunggu pesanan, mereka menyapa dengan ramah.
Suami menyenggol pundak saya, "ssst, itu lho, disapa kok diam."
Segera saya menengok arah yang ditunjuk suami dan beramah tamah dari tempat saya berdiri.
Selang beberapa saat, kutanya suami.
"Siapa sih?"
"Hah, masak enggak tau?"
Saya menggeleng.
"Enggak kelihatan. Cuma kelihatan bentuknya."
Suami geleng-geleng.
"Parah. Jarak segitu enggak kelihatan. Besok kuantar ke dokter mata!"
Sejak hari itu sapaan suami tidak berubah-berubah: 
"Yok, aku antar ke dokter mata."
Dan akhirnya,
Setelah bertahun-tahun mengingkari
Setelah kepala nyut-nyutan saat melihat dari jauh
Jadilah aku ke dokter mata. 
Minus kiri-kanan satu. 
Untung tidak pakai silinder.

"We are glasses family," kata suami setelah saya resmi berkaca mata. 
Purple frame yang saya pilih, yang menurut saya imut banget (soalnya yang ijo enggak ada) menurut adik saya lebay habis.
Kalau anda penasaran, inilah metamorfosis saya dengan makhluk yang namanya kaca mata.




Ahaaaaa, it's me!

3days Without Him (mudik too early)


"Kabar buruk, kabar buruk!" kata suami heboh pada suatu sore di awal tahun baru sekolah. 
Aku pikir dia hanya bercanda. Perasaan masa-masa penerimaan siswa baru sudah berakhir, unas juga belum karena baru saja masuk minggu kedua. 
Lalu, ditaruhnya beberapa kertas putih ditanganku.
Tertera undangan dari PWM dan British Council, juga tidak ketinggalan surat tugas dari sekolah tempat suami mengajar.
Nada-nadanya kok tidak enak....
Tiga hari.
Menginap.
Tidak pulang.
Sampai Ahad sore.
Itu baru namanya kabar buruk.... Bakalan tidak bisa kemana-mana nih.
Kugaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Gimana?" tanyanya.
Apanya yang gimana. Jelas-jelas dapat surat tugas.
Aku tidak menjawab. 
Hanya manyun yang artinya Apa tidak bisa menolak? Apa tidak ada yang lain? Kan kemarin sudah?
Lagian, dari British Council masa ditolak? Dia-nya aja seneng!
Well, Bahkan Saturday Night-pun jadwalnya padat.
"Ada bonus acara Ahad dipadatkan enggak?" tanyaku lewat sms. 
Mau telpon tidak berani. 
Alasan pertama takut suami dipelototin orang se ruangan. Kasihan dong! Alasan kedua pasti hp disilent yang jelas apapun yang masuk bakal dicuekin. Jadi percuma saja!
"Sorry, enggak ada je."
Langsung kumasukkan baju ganti Zay, susu, dot, buku cerita dan pernak-perniknya. Kumasukkan dalam tas gede. 
Waktunya mudik...! -lintas pulau dan samudera

Pukul 8 malam kubawa satu tas gede yang berisi kerjaanku yang belum beres plus dua tas gede pula yang kutenteng dengan satu tangan, yaitu tangan kanan. Anakku kubungkus dengan jaket hangatnya, kuberi topi di kepalanya yang mungil dan kupakaikan sandal jepit kesayangannya. Kugandeng dia dengan tangan kiriku yang bebas. 
"Ayo nak, waktunya mudik!" 
Sekali lagi kutoleh rumah tinggal kami yang kini tak berpenghuni.
Kami berjalan dengan pelan meninggalkannya.
 ...................................................................................................................................................................
Setelah sekian menit berjalan ~lebih tepatnya kurang dari 5 menit~ kami memutuskan untuk berhenti. Kasihan anakku, malam-malam masih harus berjalan kaki. 
Saatnya untuk istirahat. 
Mana tidak ada angkutan yang lewat, pula. 
Kulepaskan gandengan tanganku, agar anakku dapat istirahat dengan nyaman. Tiba-tiba anakku lari dengan kencang.
"Eit, jangan lari nak, nanti ketabrak, teriakku panik! Tunggu!"
....................................................................................................................................................................
"Ti, Uti...," suaranya yang masih khas anak-anak bergema sambil membuka pintu.
"Lha, kirain udah bobok," jawab uti zayyan sumringah.
 Ooow, iya.
Mudik kami kan hanya 200m saja.....