Kisah ini berawal ketika pada suatu pagi, saya, suami, dan anak laki-laki kami pergi ke sebuah pasar tradisional yang jaraknya kurang lebih 500m dari rumah.
Keperluan kami sangat jelas.
Membeli gudeg dan sambel di dalam pasar, di tempat embah-embah yang konon sudah ada sejak zaman bahola.
Dengan nasi yang masih mengepul asapnya, dibungkus dengan daun pisang (dulunya daun jati, paling sekarang daun jati mahal).
Yang terpenting adalah rasanya yang yummy dengan pedas yang terasa wow di lidah.
Singkatnya, kalau liburan, kadang kami bertiga jalan-jalan untuk sekedar mencari cita rasa masakan tradisional yang hanya ada di pasar tradisional.
Gudeg banyak, tapi bila yang jual bukan embah-embah rasanya menjadi kurang enak, kurang berani ngasih bumbu!
Ternyata,
Di tempat itulah kami bertemu dengan tetangga.
Tepat pada saat kami menunggu pesanan, mereka menyapa dengan ramah.
Suami menyenggol pundak saya, "ssst, itu lho, disapa kok diam."
Segera saya menengok arah yang ditunjuk suami dan beramah tamah dari tempat saya berdiri.
Selang beberapa saat, kutanya suami.
"Siapa sih?"
"Hah, masak enggak tau?"
Saya menggeleng.
"Enggak kelihatan. Cuma kelihatan bentuknya."
Suami geleng-geleng.
"Parah. Jarak segitu enggak kelihatan. Besok kuantar ke dokter mata!"
Sejak hari itu sapaan suami tidak berubah-berubah:
"Yok, aku antar ke dokter mata."
Dan akhirnya,
Setelah bertahun-tahun mengingkari
Setelah kepala nyut-nyutan saat melihat dari jauh
Jadilah aku ke dokter mata.
Minus kiri-kanan satu.
Untung tidak pakai silinder.
"We are glasses family," kata suami setelah saya resmi berkaca mata.
Purple frame yang saya pilih, yang menurut saya imut banget (soalnya yang ijo enggak ada) menurut adik saya lebay habis.
Kalau anda penasaran, inilah metamorfosis saya dengan makhluk yang namanya kaca mata.
Ahaaaaa, it's me!





No comments:
Post a Comment