Friday, August 5, 2011

BuBer


Sedihnya saat suami cerita kalau dia dapat 2 undangan buka bersama dengan teman-teman saat sma dulu dan yang satunya teman saat kuliah.
"Lha mau berangkat enggak?" tanyaku.
"Waduh, enggak bisa semua. Semuanya sebelum tanggal 12. Dah ada acara."
Dan perbincangan tidak berlanjut lagi.
Andai dia bilang mau berangkat, tentu kami masih sibuk mikir siapa yang diundang, satu orang apa keluarga, siapa yang mau berangkat, de el el.

Ada setitik rasa sedih ketika mendengar suami dapat undangan buka puasa bersama.
Bukan karena aku iri atau karena aku tidak dapat tawaran buka bersama.
Agak ribet juga kalau buka bersama dengan teman-teman tapi enggak ngajak keluarga. Jujur saja. Aku lebih suka buka puasa dengan keluarga [kebayang enggak, aku sudah duduk manis di depan makanan, sementara aku juga masih memikirkan bagaimana suasana rumah, apa anakku bisa duduk diam makan bareng, atau bahkan dia malah ngajak main entah ke mana. Dijamin makanan seenak apapun tidak ketelan].

Aku hanya ingin suasana buka bersama yang lebih private. Dua keluarga sahabat atau hanya dengan beberapa keluarga.
Itu saja.
Tidak perlu banyak orang, tidak perlu rame-rame.
Tapi itupun sepertinya tidak mungkin.
Hiks, sedih.
[ini bagian sedihnya]

Well,
air tetap mengalir, jarum jam tetap berputar.
Kalau tidak mau, kita tidak bisa memaksa orang lain bukan?

No comments:

Post a Comment