Akhirnya, bendera putih berkibar.
Aku menyerah.
Aku memilih pergi ke dokter untuk urusan yang satu itu.
Banyak orang tertawa penuh kemenangan (ih, sebel!) ketika aku cerita : Sudah kuputuskan. Nanti sore, aku akan ke dokter.
Komentar pertama datang dari pertner kerjaku, sambil nyengir kuda.
"Whualah. Akhirnya cuma segitu. Kelamaan, bu! Kalau akhirnya cuma dibawa ke dokter, kenapa enggak dari dulu?" (eits, ini salah juga, udah kubawa ke dokter kok).
Sebelum berangkat, dengan jujur, kubilang ke suami:
"Sebenarnya aku malu lho, ke dokter."
"Kenapa?"
"Malu aja. Cantik-cantik (^-^) kok kakinya bonyok."
Dan dia jawab,
"Masih untung to, cantik-cantik kakinya bonyok. Daripada udah enggak cantik, bonyok pula!" (ini baru namanya narsis ketemu sama narsis)
Di tempat praktek dokter, yang kutakutkan terjadilah. Aku dapat segepok amoxicillin. Waduh, males banget minumnya. Harus habis semua!
"Kalau minta yang bukan amox dok?"
"Weits, ini bukan amox lho. Cuma turunannya. Tapi lebih bagus daripada amox."
Ya sudahlah, memang sudah nasib terima saja dengan lapang dada. Pokoknya sembuh dulu deh. Dah satu minggu getting worse soalnya.

No comments:
Post a Comment