Bau tanah basah, Rintik-rintik air mengguyur bumi. Orang-orang lalu lalang dengan payung di tangan.
Sunyi.
Sunyi.
Minggu terakhir bulan Maret sampai sekarang selalu saja sama. Hujan di setiap sore. Romantiskah?
Biasanya begitu.
Tapi kini tidak.
Tapi kini tidak.
Minggu-minggu yang sangat berat kulalui,
Seperti tumpukan kartu domino yang jatuh satu per satu, dimulai pada pagi hari, saat bangun tidur perutku terasa perih. Maag ku kambuh.Biasanya, bila maag ku kambuh, hanya akan terasa perih. Maksimal 3 hari lantas hilang. Tapi yang ini...hanya bisa makan 5 sendok! Itu pun muntah.
(tak apa. aku ikhlas menerimanya.)
Tidak berhenti sampai situ, kakiku juga ingin diperhatikan. Dermatitis yang lama hibernasi muncul di saat yang tidak tepat. Biasanya, segera hilang setelah kuberi minyak but-but. Karena dibawa adekku, kuganti dengan minyak tawon. Hasilnya?
100% bengkak!
Segera saja bengkak itu berubah menjadi terkelupas semacam luka bakar. Warnanya pun seperti kepiting rebus. (oh, no. pasti lama sembuhnya.)
Aku segera akrab dengan kain kassa. Dan jalan terpincang-pinjang sambil meringis.
Seorang kawan pun bertanya: "seperti apa rasanya?"
Lantas kujawab: "Oh, tidak apa-apa, tidak sakit. Asal jangan terkena sesuatu. Kalau sampai kesenggol....WoW aduhai! Sungguh rasanya dari kepala sampai ke kaki."
Dan memang, kaki ku yang malang, sudah sangat hati-hati pake kena meja pula!
(tak apa. aku ikhlas menerimanya)
Wahai Yang Maha Penyembuh segala sakit,
Sembuhkanlah luka ini
dan gantilah dengan kebahagiaan yang melimpah.



No comments:
Post a Comment