Monday, October 31, 2011

Pengennya ke Jakarta

Pengen banget pergi ke Jakarta
...............................................
..............................................
..............................................
..............................................
.............................................
nonton konsernya Maher Zain!
^-^

Tuesday, September 27, 2011

Ada suka dan ada duka

Suka dan duka, 
adalah dua kata yang selalu beriringan, tak bisa diharapkan, tak bisa dijanjikan, selalu dan selalu akan beriringan.
Kalau tidak sedang suka, berarti ya baru ber-duka.

Ada cerita, bu ini yang usianya sudah lewat masa-masa indahnya pernikahan, ternyata baru ketemu jodoh. Tak disangka, tak dinyana, tak direncana. Beliau sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahan yang telah tertunda sekian belas tahun.
Ada cerita si mas itu, yang kemarin sedang seneng-senengnya mempersiapkan pernikahan, eh ternyata sang gadis malah berubah pikiran, semua gagal total. Mulai lagi dari nol lagi.

Suka,
Itulah kata yang membuat hidup manusia ada artinya.
Membuat kehidupan penuh warna.
Perasaan yang membuat manusia menjadi hidup seperti manusia.

Duka,
Adalah guru yang membuat manusia semakin bijak menyikapi hidup, yang melengkapi emosi sehingga sempurna, yang menjadi teman ketika semua tanpa batas.

Suka dan duka,
Seperti dua sejoli
Yang berbeda arti, tetapi tidak terpisahkan karena saling melengkapi.

Ketika

Ketika batu sudah dilemparkan, maka ia tidak mungkin kembali lagi.
Ketika paku telah ditancapkan, maka bekasnya tak pulih lagi.
Ketika cermin telah pecah, maka tak bisa utuh kembali.
dan
Ketika janji telah terucap
Maka ia hanya menunggu untuk ditepati.

Ngungsi-ngungsi....

Suami ke Jakarta tiga hari,
Di rumah berdua saja dengan  little boy tersayang.
Daripada sepi, mending pulang kampung.
Paling cuma adekku yang ngomel-ngomel modemnya dipakai si anak kecil lama-lama.

Ironi

Dulu, 
Pengen banget beli laptop. Tapi, belum terlalu penting fungsinya.
Pengen banget ganti hp. Tapi masih sayang hp yang lama.
Pengen ngenet, tapi lemot banget koneksinya.

Sekarang,
[semua berganti, seperti bumi yang terus berputar, seperti air yang selalu mengalir]

Ada laptop
Ada hp 
Internetan-pun gampang

Tapi sudah tidak ada gunanya lagi.



Monday, September 26, 2011

Pulsa nyasar


Hari ini,
Ada pulsa nyasar ke hpku. Nominalnya enggak banyak sih, tapi ya tetap saja alhamdulillah. Pas pulsa tinggal senin-kamis, eh ada rezeki.
Meski tidak banyak, enggak enak juga kalau ada teman yang salah kirim pulsa. Jadi, kutanya satu-satu, kali aja ada yang salah kirim.
Tenyata, tak ada satupun yang mengaku kalau salah kirim ke nomorku.
Ya, udah. 
Resmilah pulsa itu jadi milikku :0

Siapapun itu,
Kalau memang niatnya mbeliin pulsa, terima kasih. [Sering-sering ya...]
Tapi kalau salah kirim, ya maaf, aku enggak sengaja lho. Tapi, sering-sering salah kirim ke tempatku juga ya...

By the way,
thanks...

Friday, September 23, 2011

Meriang


Satu minggu terakhir ini, rasanya badan sakit semua. Tiap kali mandi, terkena air dingin, kulit rasanya super panas. Sebenarnya yang panas bukan badan, tapi lebih tepatnya panas dalam. Pekerjaan yang bejibun nyaris seakan tiada akhir.
Ditambah ikut koor yang dengan terpaksa saya ikuti. Maklum, dengan telinga yang sama sekali tidak peka nada dan suara "tertawa saja sumbang" hal nyanyi-menyanyi menjadi beban berat buat saya.
Well, tidak kuasa menolak membuat saya terpaksa mengikuti latihan.
Endingnya, badan langsung drop karena stress. Plus tengah malam suami ngajak nonton film yang baru selesai di down load. First of Legend -kalau enggak salah- nya Danny Yuen.
Jarangnya nonton berdua (dulu waktu masih berdua kami sering sekali nonton bareng sekarang kami harus puas nonton shaun the sheep atau oscar's oasis) membuat saya rela manyun mengikuti alur cerita yang disetting china zaman jadul dulu.
Ujung-ujungnya tidur hanya tiga jam atau mungkin kurang.
Besok paginya suar serak-serak, tenggorokan sakit.
Alamat kena radang.
Pas dibawa ke dokter: " Wah, gimana enggak sakit buat nelan, orang tenggorokannya sariawan gini."
Bu dokter yang baik membawakan segepok antibiotik.
Yang tidak bisa ditawar lagi.
Wahh.....

Thursday, September 15, 2011

The Holly Woman

Gara-gara saat Ramadhan saya menemukan satu sinetron yang iklannya sangat menarik, langsung memaksa  saya searching di google. 
"Perempuan pembawa berkah."
Saya tertarik dengan sinetron itu gara-gara iklannya menyebutkan kata-kata sayyidah adat. Apa pula itu artinya?
Walaupun berjam-jam mencari tiada hasil, saya tidak berhenti. Malah semakin penasaran. Dan di ujung pencarian saya menemukan satu artikel yang menghentikan pencarian saya.
Sinetron itu jalan ceritanya sangat mirip dengan satu novel Afganistan.
Teman satu kampungnya Khaled Hossaini, begitulah kira-kira (kok jadi keranjingan novel afganistan ya?).
Oh, pantes. 
Kok konfliknya sangat kuat, bukan khas sinetron Indonesia :p
Konon, versi aslinya berjudul The Holly Woman. Dan ada beberapa penerbit di Indonesia yang sudah menterjemahkan novel tersebut dari bahasa aslinya. 
Tak tinggal diam, saya langsung memprovokasi suami. Ada novel bagus lho, ceritanya begini, konfliknya begini, de es te, de es te (biasanya suami juga senang baca novel). Diakhiri dengan kalimat: Beli novelnya yok!
Suami langsung menoleh dengan sewot dan sedetik kemudian terkekeh.
"Wah, ujung-ujungnya kok gak enak!"

Never End Story: Mudik!

Tahun ini,
Baru ikut merasakan rasanya mudik. 
Mudik dalam arti kena macet, tak bisa jalan, nunggu manyun berjam-jam tanpa tahu kapan berakhir.
Well, siapa sangka kalau hanya sekedar pergi ke kebumen pun bisa terkena macet. Padahal, baru hari kamis. Itu artinya baru lebaran hari ke-3 (terhitung sejak lebaran hari selasa 30 Agustus 2011, coba cek di situsnya NASA, sudah New Moon loh sejak 29 Agustus. So....) 
Menurut perhitungan, jalan masih akan sepi saat itu. 
But the fact....
Jalan 5 meter, macet 10 menit.
Padahal sudah sampai kota Kebumen, tinggal menuju lokasi tempat embah. Eh, enggak tahunya butuh waktu 2 jam untuk sampai.
Kami sudah panik karena sang anak tercinta yang sudah lemas karena kelaparan (mabuk darat sih) dan setengah mati kebosanan. Dia sudah merengek minta pilang (mi, mau minum air putih di rumah!) Hmm, puyeng juga. Sampai juga belum, sudah minta pulang.
Untung, dia betah main-main tempat embah yang emang asli ramai. Maklum, keluarga besar. 
Pas hari ketiga, dia minta pulang dengan satu alasan: pengen nonton The Wheels On The Bus. Waduh, ini dia. 
Alamat berebut komputer lagi...
Saya dan suami memang bergantian memakai komputer. Tapi, kalau si anak kecil juga mulai pengen liat di you tube... Waduh, itu artinya kami harus rela tidak memelototi komputer untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. 
Hiks, sedih!

Too Late to Say ....

Too Late To Say : Happy Eid Mubarok 1432 H, Wish you and your family blessed by Allah SWT ...



Friday, August 5, 2011

Ramadhan ini, 2 kali aku menangis...

Puasa pertama dimulai hari senin, nyaris 1 minggu yang lalu.
Saat itu matahari belum beranjak siang, maka aku juga belum menyiapkan apapun untuk berbuka puasa. 
Masih lama!
Karena ada tugas yang belum selesai aku duduk lama-lama di depan komputer sambil mencari web yang bagus. Tiba-tiba ada artikel yang menulis bahwa ka'bah dapat terlihat dari bulan.
Konon, Neil Amstrong (dia bukan sih orang pertama ke bulan?) saat pertama kali menginjak bulan heran karena dia melihat bumi (ada sesuatu yang berwarna hitam, menggantung di angkasa.). Dia heran, lho, kok ternyata bumi itu menggantung? Jadi siapa yang menggantungnya?
Kemudian ada situs resmi dari NASA yang menyebutkan tentang penemuan tersebut yang dua minggu kemudian situs itu hilang.
Dan ternyata dari bumi ada radiasi lurus ke angkasa  yang tidak terputus. Konon (sekali lagi, konon) radiasi itu yang menghubungkan antara ka'bah di dunia dan di akherat.
Kira-kira demikian yang dapat aku ingat.
Aduh, sayang sekali aku tidak ingat dimana aku membaca artikel itu (webnya juga tidak ingat), padahal bagus banget isinya, membaca artikel itu benar-benar amazing!

Lalu, mengapa aku menangis?

Saat bulik pulang umrah, bulik bercerita bahwa di Arab sana, mereka percaya bahwa sebenarnya posisi ka'bah itu menggantung. Tidak tepat di atas tanah. Karena saat itu aku tidak paham (maklum, baru pertama dengar), aku hanya mengiyakan saja.
Nha, saat membaca temuan Neil Amstrong itu, ternyata cocok dengan cerita yang aku dengar. Padahal itu ilmiah, bukan sekedar dongeng. 
Rasanya luar biasa.  
Amazing!
Ternyata manusia itu bergitu kecil, bukan siapa-siapa.

Yang kedua, hari ini, juga ketika aku di depan PC lama-lama, ada artikel tentang suara adzan yang bercampur dengan Ave Maria (dari Tania Kassis, coba cari di you tube).
Awalnya hanya artikel tentang Siti Maryam (Maria) yang namanya tertulis dalam Al Qur'an, seorang wanita yang dari beberapa agama sama-sama mempercayai kisah dan keberadaannya. 
Bahwa di Libanon, ada satu hari khusus yang dirayakan bersama oleh umat muslim dan nasrani, bahwa dalam hal Siti Maryam tersebut mereka sepaham. Dan diakhiri dengan video Tania Kassis. 
Agak konyol memang membayangkan azan bercampur dengan sebuah lagu.

Lalu apa yang membuat aku menangis?

Suara azannya bagus baget (walaupun porsinya hanya sedikit).
Merinding mendengarnya....
Jadi ingat suara azan kalau di Mekkah. Ujung-ujungnya pengen banget ke sana, mendengar langsung dari kedua telingaku ini.
Bisa tidak ya?

BuBer


Sedihnya saat suami cerita kalau dia dapat 2 undangan buka bersama dengan teman-teman saat sma dulu dan yang satunya teman saat kuliah.
"Lha mau berangkat enggak?" tanyaku.
"Waduh, enggak bisa semua. Semuanya sebelum tanggal 12. Dah ada acara."
Dan perbincangan tidak berlanjut lagi.
Andai dia bilang mau berangkat, tentu kami masih sibuk mikir siapa yang diundang, satu orang apa keluarga, siapa yang mau berangkat, de el el.

Ada setitik rasa sedih ketika mendengar suami dapat undangan buka puasa bersama.
Bukan karena aku iri atau karena aku tidak dapat tawaran buka bersama.
Agak ribet juga kalau buka bersama dengan teman-teman tapi enggak ngajak keluarga. Jujur saja. Aku lebih suka buka puasa dengan keluarga [kebayang enggak, aku sudah duduk manis di depan makanan, sementara aku juga masih memikirkan bagaimana suasana rumah, apa anakku bisa duduk diam makan bareng, atau bahkan dia malah ngajak main entah ke mana. Dijamin makanan seenak apapun tidak ketelan].

Aku hanya ingin suasana buka bersama yang lebih private. Dua keluarga sahabat atau hanya dengan beberapa keluarga.
Itu saja.
Tidak perlu banyak orang, tidak perlu rame-rame.
Tapi itupun sepertinya tidak mungkin.
Hiks, sedih.
[ini bagian sedihnya]

Well,
air tetap mengalir, jarum jam tetap berputar.
Kalau tidak mau, kita tidak bisa memaksa orang lain bukan?

Sunday, July 31, 2011

Ramadhan is coming.....


Kami sekeluarga mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa.... 
Semoga umur kita disampaikan sampai dengan akhir Ramadhan ini dan semoga Ramadhan tahun ini menjadi berkah untuk kita semua.
Semoga kita menjadi manusia-manusia yang unggul pada bulan yang penuh dengan tantangan, penuh ampunan, dan penuh rahmat ini.
Semangat, semangat, semaangat!


Mari kita berlomba-lomba dalam beramar ma'ruf nahi mungkar, mumpung banyak teman. Bila di hari-hari biasa kita malas-malasan, ayo pada bulan ini kita semangat-semangat-semangat!
 

MARHABAN YA....RAMADHAN

Saturday, July 23, 2011

Setelah Bertahun-tahun Mengingkari (sebuah pengakuan)

Kisah ini berawal ketika pada suatu pagi, saya, suami, dan anak laki-laki kami pergi ke sebuah pasar tradisional yang jaraknya kurang lebih 500m dari rumah.
Keperluan kami sangat jelas.
Membeli gudeg dan sambel di dalam pasar, di tempat embah-embah yang konon sudah ada sejak zaman bahola. 
Dengan nasi yang masih mengepul asapnya, dibungkus dengan daun pisang (dulunya daun jati, paling sekarang daun jati  mahal). 
Yang terpenting adalah rasanya yang  yummy dengan pedas yang terasa wow di lidah.
Singkatnya, kalau liburan, kadang kami bertiga jalan-jalan untuk sekedar mencari cita rasa masakan tradisional yang hanya ada di pasar tradisional. 
Gudeg banyak, tapi bila yang jual bukan embah-embah rasanya menjadi kurang enak, kurang berani ngasih bumbu!
Ternyata, 
Di tempat itulah kami bertemu dengan tetangga.
Tepat pada saat kami menunggu pesanan, mereka menyapa dengan ramah.
Suami menyenggol pundak saya, "ssst, itu lho, disapa kok diam."
Segera saya menengok arah yang ditunjuk suami dan beramah tamah dari tempat saya berdiri.
Selang beberapa saat, kutanya suami.
"Siapa sih?"
"Hah, masak enggak tau?"
Saya menggeleng.
"Enggak kelihatan. Cuma kelihatan bentuknya."
Suami geleng-geleng.
"Parah. Jarak segitu enggak kelihatan. Besok kuantar ke dokter mata!"
Sejak hari itu sapaan suami tidak berubah-berubah: 
"Yok, aku antar ke dokter mata."
Dan akhirnya,
Setelah bertahun-tahun mengingkari
Setelah kepala nyut-nyutan saat melihat dari jauh
Jadilah aku ke dokter mata. 
Minus kiri-kanan satu. 
Untung tidak pakai silinder.

"We are glasses family," kata suami setelah saya resmi berkaca mata. 
Purple frame yang saya pilih, yang menurut saya imut banget (soalnya yang ijo enggak ada) menurut adik saya lebay habis.
Kalau anda penasaran, inilah metamorfosis saya dengan makhluk yang namanya kaca mata.




Ahaaaaa, it's me!

3days Without Him (mudik too early)


"Kabar buruk, kabar buruk!" kata suami heboh pada suatu sore di awal tahun baru sekolah. 
Aku pikir dia hanya bercanda. Perasaan masa-masa penerimaan siswa baru sudah berakhir, unas juga belum karena baru saja masuk minggu kedua. 
Lalu, ditaruhnya beberapa kertas putih ditanganku.
Tertera undangan dari PWM dan British Council, juga tidak ketinggalan surat tugas dari sekolah tempat suami mengajar.
Nada-nadanya kok tidak enak....
Tiga hari.
Menginap.
Tidak pulang.
Sampai Ahad sore.
Itu baru namanya kabar buruk.... Bakalan tidak bisa kemana-mana nih.
Kugaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Gimana?" tanyanya.
Apanya yang gimana. Jelas-jelas dapat surat tugas.
Aku tidak menjawab. 
Hanya manyun yang artinya Apa tidak bisa menolak? Apa tidak ada yang lain? Kan kemarin sudah?
Lagian, dari British Council masa ditolak? Dia-nya aja seneng!
Well, Bahkan Saturday Night-pun jadwalnya padat.
"Ada bonus acara Ahad dipadatkan enggak?" tanyaku lewat sms. 
Mau telpon tidak berani. 
Alasan pertama takut suami dipelototin orang se ruangan. Kasihan dong! Alasan kedua pasti hp disilent yang jelas apapun yang masuk bakal dicuekin. Jadi percuma saja!
"Sorry, enggak ada je."
Langsung kumasukkan baju ganti Zay, susu, dot, buku cerita dan pernak-perniknya. Kumasukkan dalam tas gede. 
Waktunya mudik...! -lintas pulau dan samudera

Pukul 8 malam kubawa satu tas gede yang berisi kerjaanku yang belum beres plus dua tas gede pula yang kutenteng dengan satu tangan, yaitu tangan kanan. Anakku kubungkus dengan jaket hangatnya, kuberi topi di kepalanya yang mungil dan kupakaikan sandal jepit kesayangannya. Kugandeng dia dengan tangan kiriku yang bebas. 
"Ayo nak, waktunya mudik!" 
Sekali lagi kutoleh rumah tinggal kami yang kini tak berpenghuni.
Kami berjalan dengan pelan meninggalkannya.
 ...................................................................................................................................................................
Setelah sekian menit berjalan ~lebih tepatnya kurang dari 5 menit~ kami memutuskan untuk berhenti. Kasihan anakku, malam-malam masih harus berjalan kaki. 
Saatnya untuk istirahat. 
Mana tidak ada angkutan yang lewat, pula. 
Kulepaskan gandengan tanganku, agar anakku dapat istirahat dengan nyaman. Tiba-tiba anakku lari dengan kencang.
"Eit, jangan lari nak, nanti ketabrak, teriakku panik! Tunggu!"
....................................................................................................................................................................
"Ti, Uti...," suaranya yang masih khas anak-anak bergema sambil membuka pintu.
"Lha, kirain udah bobok," jawab uti zayyan sumringah.
 Ooow, iya.
Mudik kami kan hanya 200m saja.....


Friday, June 3, 2011

Frustration!

Aku frustrasi
Suami frustrasi
Kami berdua sama-sama frustrasi.
Sudah satu minggu ~mungkin lebih~ koneksi internet kacau. 
Katanya, 
Beberapa komponen pada server diganti agar sinyal lebih kuat. Memang, sinyalnya tambah oke dan koneksinya....makin lemot saja!
Browsing enggak bisa, upload apalagi.
Ini namanya murni terkena virus internet. 
Sehari saja tidak di depan PC rasanya ketinggalan info macam-macam. Padahal sih, kalau mau jujur, banyak hal yang bisa dikerjakan daripada sekedar memelototi monitor. 
Jadilah bongkar-bongkar almari, mengais tumpukan buku lama, mana tahu ada yang menarik hati.
Ketika buku yang dimaksud tetap tidak terlihat covernya, maka pilihannya hanya tiduran bertiga sambil mendengar haha hihi nya buah hati yang sedang nonton sponge bob atau shaun the sheep.
Finally
Ketika pinjaman modem dari adik harus segera kembali, ketika koneksi tetap belum lancar, maka yang bisa dilakukan adalah pontang-panting mencari novel baru.

See you blog...
Mudah-mudahan minggu depan lebih beruntung...

Saturday, May 21, 2011

Say No to chiki, chocolate, and candy!

Kasihan anak saya,
Kata dokter, penyebab radangnya karena terlalu banyak makan permen.
Pengawet, pewarna dan pemanis dalam camilan anak-anak membuat tenggorokan iritasi. Selanjutnya, radang tenggorokan!
(padahal anak-anak kecil kan suka banget dengan camilan instan)
Selain pada permen, zat-zat additif itu banyak ditemukan dalam chiki. Coklat, yang tiap anak kecil suka pun ternyata menyebabkan lendir lengket yang berpotensi melukai tenggorokan. Bahkan, susu yang sudah dikemas dalam kotak-pun ternyata tetap berpeluang menyebabkan radang tenggorokan.
Wah-wah-wah, lalu apa dong camilan untuk anak yang aman? Kira-kira mau apa tidak ya kalau dibelikan jajan pasar?

Sisi baiknya,
Mungkin kelak saat dia semakin besar akan tergila-gila pada yang namanya sayur dan buah (hehe, ini saya banget!). 
Bagus kan?
Berhubung saya dulu juga seperti itu, apa-apa tidak boleh, apa-apa bikin sakit, akhirnya yang paling aman ya hanya ngemil buah dan sayur. 
Tak apa ya nak, yang penting kamu selalu sehat...

The Kite Runner

Buku ini mengisahkan tentang persahabatan, cinta, keluarga sekaligus tentang pengkhianatan. Ceritanya menarik, karakter tokoh-tokohnya kuat. Meskipun ada beberapa bagian yang "agak seram" karena settingnya peperangan. 
Setting cerita ini di Afganistan sebelum dan sesudah perang (Bagian itulah yang menyeramkan), kebudayaan Afganistan semakin memperkuat jalinan ceritanya.
Sayangnya ada beberapa tokoh "dimatikan" yang membuat cerita ini menjadi sebuah kisah sedih, walaupun akhirnya happy end (mmm, saya memang tidak terlalu suka membaca kisah-kisah menyedihkan. Saya lebih suka membaca novel yang berakhir dengan semua bahagia). 
Dijamin tidak menyesal membacanya!
 Akhirnya,
Novel setebal 400 sekian halaman itu berhasil saya selesaikan.
Walaupun kadang harus berantem dulu dengan anak saya -dia tidak suka saya terus-terusan memegang buku, jadi rebutan deeeh!

Friday, May 20, 2011

Dream...

Semalam,
Aku bermimpi tentang kita.
Bercerita.
Sama seperti dulu. Hanya bercerita.
Masa lalu.
Betapa ingin kembali ke sana!

(tapi kita tidak hidup untuk masa lalu. roda terus berputar, hidup terus mengalir seiring dengan adanya keajaiban-keajaiban kecil. memang hanya sebuah mimpi...)

Kena Deh!

Asli,
Tenggorokan terasa panas. Leher terasa kering. 
Nyeri.
Di sudut kanan leher teraba benjolan sebesar kacang.
Radang tenggorokan!

Ada beberapa pilihan untuk mengatasi radang tenggorokan:
Pertama, paling mudah dan paling menyebalkan. Pergi ke dokter, mendapat 9 biji antibiotik yang baunya Innalillah (amoxicillin) untuk 3 hari ke depan dan menderita 3 kali sehari tiap mau minum (kapsulnya gede, baunya muinta ampun). Kemungkinan sembuh hampir 100% asal tahan dengan bau amox. Tidak perlu diskusi dengan suami soal ini, dijamin akan berakhir dengan dia mendiamkanku seharian (pasti disuruh ke dokter). Jadi, bukan pilihan menarik, ini pilihan terakhir!
Pilihan kedua, minum air putih 2 liter akan mengurangi radang (pernah dicoba), mudah, murah, praktis, dan....capek. Bolak-balik ke kamar mandi!
Pilihan ketiga minum madu dicampur air hangat, jangan lupa vitamin c dosis tinggi (500mg). Gampang, tidak menyiksa, hanya agak lama sembuhnya.

Kemarin,
Sok-sok an minum air dingin. Sekali, dua kali, tiga kali....kena radang deh!
Same as usual!

(salah sendiri, sudah tahu, nekat pula ^-^).

Tanggal Merah dan novel baru


Satu-satunya yang kucari bila menatap kalender adalah angka yang berwarna merah.
Tanggal merah, liburan.
Di tanganku sudah terselip "The Kite Runner" dan "To Kill The Mocking Bird" {eits, jangan salah, meskipun judulnya berbahasa Inggris isinya tetap saja terjemahan. Aku pernah memaksa membaca The Silver Chair versi Inggrisnya, dan yang kudapat hanyalah satu bab yang tuntas kubaca. Pusing. Terlalu sering membolak-balik kamus, sementara aku keburu penasaran dengan ceritanya -belakangan aku baru tahu, kalau versi Indonesia mungkin Narnia karena isinya sama}.
Di kalender ada beberapa tanggal merah.
Klop.
Itu namanya pucuk dicinta ulam tiba.
Apalagi, suami sudah woro-woro tidak ingin membaca keduanya. 
Males. 
Oh, syukurlah. Tidak perlu rebutan buku (seperti biasanya) sampai bukunya kucel. Tidak perlu akal-akalan menyembunyikan pula. 
"Liburan mau ke mana?" tanya suami.
"Ke mana aja deh,"jawabku.
Acara utama kalau hari libur adalah jalan-jalan bertiga. Jadilah kami seharian keluar. Pagi, siang, malam.
Yahh, sama juga bohong!
Pembatas buku di The Kite Runner masih tetap tidak bergerak, To Kill The Mockingbird masih utuh rapi belum tersentuh.
Mungkin next time aku lebih beruntung...

Thursday, May 19, 2011

Sebatas novel dan monitor

Kalau boleh jujur,
menunggu anak sakit itu tidak menyenangkan. 
Lelah setelah seharian bekerja, tidak ada sepertiganya bila dibandingkan dengan lelahnya menjaga anak yang sedang sakit. 
Tidak hanya lelah secara fisik, tetapi lelah secara mental. Dan justru yang membuat rasa lelah semakin berlipat ganda adalah pikiran yang kacau saat anak tidak kunjung sembuh.
Tapi untuk alasan apapun, saat anakku sedang sakit, terbaring dengan wajah memerah seperti kepiting rebus (wajah khas demam tinggi) yang aku inginkan hanya satu.
Menungguinya!

Walaupun agak jengkel karena anak rewel, tidak mau ditinggal ke mana-mana dan punggung pegal setengah mati, itulah yang aku lakukan. Membujuknya untuk sekedar makan, minum, bahkan membacakannya buku cerita bila acara TV tidak lagi menyenangkan hatinya.
Dan kegiatan yang bisa kulakukan hanyalah membaca 'The Kite Runner" setebal 400 sekian halaman atau browsing di dunia maya, sekedar posting blog. 
Hanya itu.
Karena hanya dua kegiatan itu yang dapat kukerjakan sementara aku tidak beranjak kemana-mana. 
Mencuci?
Jangan harap.
Masak?
Apalagi. 
Atau kalau nekat juga, dalam hitungan detik akan segera terdengar teriakan melengking (yang dari jarak 1 kilo pun masih terdengar) ......
uuuuumiiiiii! 
(dengan gaya khasnya memanggil: u yang terdengar seperti o dan mi' yang terdengar seperti pengucapan me pada kata mecca)

Jadi,
kunikmati saja mengkhatamkan novelku -yang sudah satu minggu baru kuselesaikan separonya,
atau 
kunikmati saja sepuasnya di depan monitor tanpa ada yang ribut meminta gantian.

Laryngitis

 Dalam seminggu ini entah sudah berapa kali aku bolak-balik ke PKU. Entah itu periksa atau sekedar membesuk. 
Sekali lagi, siang ini aku ke sana.
Karena panas yang tidak kunjung reda, aku harus segera membawa anakku ke dokter. Kemungkinan radang tenggorokan (dari bibirnya yang merah banget pasti ada panas dalam) yang hanya bisa reda setelah mendapat antibiotik. Dan diagnosa dokter tidak jauh meleset dari perkiraanku.
Radang hebat di tenggorokan!
"Suka makan chiki ya?"
Aku menggeleng.
Dia belum pernah makan chiki, memang tidak kukenalkan karena tenggorokannya sensitif.
"Habis makan coklat? Atau permen?"
Wah, itu dia!
"Cuma yupi dok. Atau sama aja permen ya?" ralatku buru-buru. Konyol, memungkiri bahwa yupi bukanlah permen.
Sang dokter terkekeh. 
Sama aja ada pengawet, pemanis, dan pewarna, katanya.
Oups, itu dia penyebab radangnya. Anakku tiap hari makan yupi. Tidak cuma satu malah!

Biasanya, bila panas karena radang minimal dua hari baru reda.
Panas yang semakin tinggi membuatku panik juga. Angka 40 di termometer masih belum berhenti.
Bingung. 
Kata dokter, parasetamol hanya 4x sehari. Wah, bakalan lebih tinggi kalau panasnya tiap 4 jam meningkat! Biasanya yang kupakai sanmol, ada rekomendasi dsa bila perlu bisa 4 jam sekali. 
Tapi parasetamol sirup??? 
Aku baru sekali ini pakai, dapat dari periksa THT kemarin. Meskipun isinya sama-sama paracetamol, aku tidak tahu kandungan keseluruhan, apa dosisnya sama atau ada yang lebih tinggi.
Bingung!
Memaksa pemberian tiap 4 jam, takut overdosis. Paracetamol dirombak di hati, sepertinya untuk overdosis bukan pilihan. 
Pilihan kedua, menunggu waktu minum obat sambil dikompres. 
Bukan pilihan juga karena dalam waktu 4 jam panasnya akan merambat naik dengan pasti. Terlalu lama mendapat turun panas juga bukan pilihan. Menakutkan, bila termometer menunjukkan angka 41 atau bahkan lebih.
Pilihan ketiga....
Tetap kuberikan paracetamol tiap 4 jam dengan pemberian setengah dosis.
Deal.
Agak nekat, tapi mudah-mudahan berhasil. Menurut hitunganku, hasil akhirnya tidak melebihi dosis yang dianjurkan dokter.
Bismillah...

Wednesday, May 18, 2011

Sedihnya!

Sedihnya bila anak sakit.
Baru satu minggu sembuh, anak saya sudah panas lagi.
Sedih.
Tidak terlalu tinggi memang, tapi sudah cukup membuat terjaga semalaman.
Sedih.
Tapi tak apa. 
Sepertinya hanya pilek saja. Sudah terlihat ingusnya meleleh keluar, itu lebih aman daripada hanya panas tanpa disertai batuk pilek. 
Lebih mendebarkan!
Tapi tadi di langit-langitnya sempat terlihat bintik-bintik merah. 
Mungkin hanya bintik-bintik biasa.
Mungkin panas dalam.
atau....
Flu singapura!
(again? wuaduh...)
Hmm, kalau besok masih panas tinggi terpaksa ke dokter lagi. 
Kata dokter THT, kalau balita sakit meski cuma batuk pilek tidak boleh lebih dari 3 hari -tanpa penanganan dokter. Beresiko terhadap kesehatan telinganya.
Sedihnya kalau si kecil sakit...

So sad...

Sedih.
Sedih, rasanya bila disalahkan. Lebih-lebih, bila itu teman sendiri (kami sudah merasa bersalah, tidak perlu diperpanjang lagi, cukuplah sudah!).
Maaf bila seseorang merasa menjadi kambing hitam.
Maaf,
(Bak detektif) aku berusaha mencari akar masalah itu (dan ketemu!), segera menyelesaikannya agar tidak memakan korban lebih banyak (lagi-lagi maaf kalau ada yang terkena getahnya).
Tutup buku, cukup sekian, aku harap tidak perlu dibahas lagi.
Finish!

Monday, May 16, 2011

Sepasang Sepatu Sandal Baru

Satu malam sebelum mengantar anak-anak ke Malang, suami meminta saya untuk menemaninya mencari sepatu sandal yang cocok. Maklum, ukuran kaki suami saya lumayan sulit dicari.
Malam itu sudah menunjukkan pukul 8 malam. 
Terlalu malam sebenarnya untuk mulai hunting sesuatu.
Pucuk dicinta ulam tiba.
Sepasang sepatu sandal itu berhasil kami temukan tidak jauh dari rumah (nyaris hujan, kami tidak berani pergi agak jauh, berjaga-jaga agar tidak jatuh sakit). 
Ukuran pas dengan harga yang pas juga (sebenarnya dapat diskon karena pemiliknya wali murid sekaligus tetangga).
List bawaan piknik terpenuhi.

Sampai rumah, si kecil telah menunggu.
Begitu melihat sepasang sandal baru, dia tidak mau kalah. Ikut-ikutan mencoba walaupun ukuran kakinya hanya seperempat ukuran sandal itu.
Yeah, anak kami memang tidak bisa melihat barang baru. Apapun yang masih baru selalu menarik perhatiannya! 
"Tadi ada yang kecil, besok ya kita beli," ayahnya kelepasan.
Waduh! Salah omong. 
Dia tidak bisa mendengar kata besok kalau urusan beli-membeli, semua harus sekarang.
"Mi. Ayo sekarang beli sandal," kata anak saya sambil melirik dengan pipi cemberut.
Hmmm, pukul 9 malam mana ada yang jualan? 
Bakalan rewel ini...
Beruntung, ada bantalan stempel yang mampu menghibur anak saya. Meskipun ayahnya sewot, lantai belepotan tinta.

(Ternyata, lama tidak pakai sandal, memang sandal anak saya sudah tidak muat lagi. Kekecilan! Besok ya naak...)


Senin Yang Aneh

Agak aneh, melihat Senin ini seharusnya libur panjang sedangkan aku harus tetap bekerja. Maklum, walaupun para pegawai libur tapi urusan sekolah tetap saja masuk. Walaupun hanya setengah hari saja. 
Tetap harus disyukuri, Alhamdulillah.
Agak aneh,
Melihat anak-anak biasanya penuh, hari ini hanya berangkat separo.
Agak aneh,
Biasanya full pekerjaan, hari ini sedikit longgar, punya banyak waktu luang.
Semuanya harus disyukuri.
Alhamdulillah.

Pulang sekolah, kami (saya, suami, dan zayyan) mampir ke rumah sakit -PKU- membesuk Fadhil yang masuk rumah sakit pagi kemarin.
Muntah-muntah dari jam dua pagi sampai siang tidak berhenti. Bahkan setelah diberi obat anti muntah sekalipun. 
Jadilah akhirnya harus bobo' di rumah sakit dengan dipasangi selang infus di pergelangan tangan.
Cerita ini membuat saya kembali mengucap syukur.
Meskipun saya bolak-balik ke PKU (periksa ke dokter anak), saya masih beruntung karena anak saya masih bisa obat jalan.
Jadi ingat dulu, 
Anak saya pernah dua kali muntah-muntah seperti kasus Fadhil itu, dan Alhamdulillah, reda dengan obat anti muntah. Alhamdulillah tidak dehidrasi walaupun harus menghabiskan pedialit 500ml berbotol-botol.
Lagi-lagi: Alhamdulillah!

Pulang dari rumah sakit, anak saya rewel. Minta beli (maksudnya belanja). Aduh, ini anak kok sepertinya hobby belanja ya...
Perasaan orang tuanya hanya ke toko untuk membeli keperluan rumah tangga saja. Enggak suka keluyuran keluar masuk toko (kecuali toko buku sih, hehehe, bukan untuk beli -waduh jadi maluuuu- nebeng baca aja, kalau ada yang nyantol di hati baru beli!)

Deg-degan banget, menuruti keinginan anak. 
Biasanya, dia maunya beli mainan. Wah, kalau sudah pegang mobil-mobilan dijamin susah lepasnya. 
Lalu saya akan merasa berada dalam persimpangan jalan. 
Di satu sisi, apalah artinya membelikan mainan? 
Tapi di sisi lain, saya tidak terlalu senang bila anak saya sering membeli 'mainan jadi'. Saya lebih senang kalau dia bermain dengan kardus bekas, panci, sendok, atau barang lain yang tidak berwujud mainan. 
Kreatifitasnya akan lebih berkembang dengan mainan seadanya.

Akhirnya kami sepakat.
Anak saya minta dibelikan buku tulis dengan cover upin-ipin, bukan mainan!
Sambil tersenyum, saya berkata bahwa buku itu kosong, tidak ada gambarnya. Eh, dia ngerti. Katanya, tidak apa-apa nanti bisa ditulisi di rumah (surprise lho, dia ngerti yang dia mau itu buku tulis).
Deal!
Jadilah buku bersampul upin-ipin itu kami beli. Anak saya pulang dengan sumringah, saya juga lega ternyata bukan mainan yang dia inginkan.
Usai berganti baju (kebiasaan bila pulang dari rumah sakit harus ganti baju) sekaligus cuci tangan dan kaki, anak saya minta minum susu. Tumben dia tidak minta saya temani.
Anak saya tidur dengan ayahnya!
Memang, Senin yang ajaib!


Sunday, May 15, 2011

Long Vacation

Long week end, long vacation.
Sepupu di Kalimantan pulang, keluarga budhe semua kompak menengok sepupu yang baru saja pindah rumah.
Kalau semua ngumpul seperti ini, acara sakral di keluarga kami berlanjut. Masak bareng, makan bareng, mencuci bareng. Well, walaupun aku hanya ikut yang bagian makan barengnya saja ^-^
Happy holiday!
(jarang-jarang kan dapat libur panjang...)

Kemarin,
Dua kawan yang sedang ulang tahun ditodong. 
"Ayo dong, bakso Idola."
Yang kena buru-buru melarikan diri sambil ber dag-dag-daaaaa dengan riang. Melarikan diri!
Namanya baru rezeki dapat bakso, pagi-pagi tetangga sebelah (yang masih kerabat) mengetuk pintu. 
"Ini bulik ada arisan," katanya sambil menyodorkan 3 mangkuk bakso. Lengkap dengan sambal yang merah menyala dan taburan caisim yang gede-gede.
(Anakku yang memang senang makan bakso langsung cengengesan)
Suara telfon bernyanyi mengabarkan seorang kerabat lain  baru saja masuk rumah sakit, anemia dan harus transfusi -ini berita sedihnya.

Lengkap sudah peristiwa pagi ini.
Ada susah, ada senang.
Seperti roda yang selalu berputar. Kadang menggelinding di masa-masa membahagiakan, kadang berada di saat getir penuh kepedihan.
Itulah seninya hidup!

Untuk yang hari ini Ulang Tahun,
Barakallah.
Semoga sehat, tentram, dan bahagia. Semoga mendapat umur yang panjang dan bermanfaat. Semoga semua lancar hingga memperoleh rizqi yang berkah.
Barakallah. 
Semoga tercurah untukmu.
Selalu.

Untuk yang hari ini tidak Ulang Tahun,
Semoga keselamatan dan kebahagiaan selalu melimpah juga untukmu.
Semoga diberi bimbingan-Nya dalam menjalani hidup.

Amin!