Monday, May 16, 2011

Sepasang Sepatu Sandal Baru

Satu malam sebelum mengantar anak-anak ke Malang, suami meminta saya untuk menemaninya mencari sepatu sandal yang cocok. Maklum, ukuran kaki suami saya lumayan sulit dicari.
Malam itu sudah menunjukkan pukul 8 malam. 
Terlalu malam sebenarnya untuk mulai hunting sesuatu.
Pucuk dicinta ulam tiba.
Sepasang sepatu sandal itu berhasil kami temukan tidak jauh dari rumah (nyaris hujan, kami tidak berani pergi agak jauh, berjaga-jaga agar tidak jatuh sakit). 
Ukuran pas dengan harga yang pas juga (sebenarnya dapat diskon karena pemiliknya wali murid sekaligus tetangga).
List bawaan piknik terpenuhi.

Sampai rumah, si kecil telah menunggu.
Begitu melihat sepasang sandal baru, dia tidak mau kalah. Ikut-ikutan mencoba walaupun ukuran kakinya hanya seperempat ukuran sandal itu.
Yeah, anak kami memang tidak bisa melihat barang baru. Apapun yang masih baru selalu menarik perhatiannya! 
"Tadi ada yang kecil, besok ya kita beli," ayahnya kelepasan.
Waduh! Salah omong. 
Dia tidak bisa mendengar kata besok kalau urusan beli-membeli, semua harus sekarang.
"Mi. Ayo sekarang beli sandal," kata anak saya sambil melirik dengan pipi cemberut.
Hmmm, pukul 9 malam mana ada yang jualan? 
Bakalan rewel ini...
Beruntung, ada bantalan stempel yang mampu menghibur anak saya. Meskipun ayahnya sewot, lantai belepotan tinta.

(Ternyata, lama tidak pakai sandal, memang sandal anak saya sudah tidak muat lagi. Kekecilan! Besok ya naak...)


No comments:

Post a Comment