Agak aneh, melihat Senin ini seharusnya libur panjang sedangkan aku harus tetap bekerja. Maklum, walaupun para pegawai libur tapi urusan sekolah tetap saja masuk. Walaupun hanya setengah hari saja.
Tetap harus disyukuri, Alhamdulillah.
Agak aneh,
Melihat anak-anak biasanya penuh, hari ini hanya berangkat separo.
Agak aneh,
Biasanya full pekerjaan, hari ini sedikit longgar, punya banyak waktu luang.
Semuanya harus disyukuri.
Alhamdulillah.
Pulang sekolah, kami (saya, suami, dan zayyan) mampir ke rumah sakit -PKU- membesuk Fadhil yang masuk rumah sakit pagi kemarin.
Muntah-muntah dari jam dua pagi sampai siang tidak berhenti. Bahkan setelah diberi obat anti muntah sekalipun.
Jadilah akhirnya harus bobo' di rumah sakit dengan dipasangi selang infus di pergelangan tangan.
Cerita ini membuat saya kembali mengucap syukur.
Meskipun saya bolak-balik ke PKU (periksa ke dokter anak), saya masih beruntung karena anak saya masih bisa obat jalan.
Jadi ingat dulu,
Anak saya pernah dua kali muntah-muntah seperti kasus Fadhil itu, dan Alhamdulillah, reda dengan obat anti muntah. Alhamdulillah tidak dehidrasi walaupun harus menghabiskan pedialit 500ml berbotol-botol.
Lagi-lagi: Alhamdulillah!
Pulang dari rumah sakit, anak saya rewel. Minta beli (maksudnya belanja). Aduh, ini anak kok sepertinya hobby belanja ya...
Perasaan orang tuanya hanya ke toko untuk membeli keperluan rumah tangga saja. Enggak suka keluyuran keluar masuk toko (kecuali toko buku sih, hehehe, bukan untuk beli -waduh jadi maluuuu- nebeng baca aja, kalau ada yang nyantol di hati baru beli!)
Deg-degan banget, menuruti keinginan anak.
Biasanya, dia maunya beli mainan. Wah, kalau sudah pegang mobil-mobilan dijamin susah lepasnya.
Lalu saya akan merasa berada dalam persimpangan jalan.
Di satu sisi, apalah artinya membelikan mainan?
Tapi di sisi lain, saya tidak terlalu senang bila anak saya sering membeli 'mainan jadi'. Saya lebih senang kalau dia bermain dengan kardus bekas, panci, sendok, atau barang lain yang tidak berwujud mainan.
Kreatifitasnya akan lebih berkembang dengan mainan seadanya.
Akhirnya kami sepakat.
Anak saya minta dibelikan buku tulis dengan cover upin-ipin, bukan mainan!
Sambil tersenyum, saya berkata bahwa buku itu kosong, tidak ada gambarnya. Eh, dia ngerti. Katanya, tidak apa-apa nanti bisa ditulisi di rumah (surprise lho, dia ngerti yang dia mau itu buku tulis).
Deal!
Jadilah buku bersampul upin-ipin itu kami beli. Anak saya pulang dengan sumringah, saya juga lega ternyata bukan mainan yang dia inginkan.
Usai berganti baju (kebiasaan bila pulang dari rumah sakit harus ganti baju) sekaligus cuci tangan dan kaki, anak saya minta minum susu. Tumben dia tidak minta saya temani.
Anak saya tidur dengan ayahnya!
Memang, Senin yang ajaib!


No comments:
Post a Comment