Saturday, May 21, 2011

Say No to chiki, chocolate, and candy!

Kasihan anak saya,
Kata dokter, penyebab radangnya karena terlalu banyak makan permen.
Pengawet, pewarna dan pemanis dalam camilan anak-anak membuat tenggorokan iritasi. Selanjutnya, radang tenggorokan!
(padahal anak-anak kecil kan suka banget dengan camilan instan)
Selain pada permen, zat-zat additif itu banyak ditemukan dalam chiki. Coklat, yang tiap anak kecil suka pun ternyata menyebabkan lendir lengket yang berpotensi melukai tenggorokan. Bahkan, susu yang sudah dikemas dalam kotak-pun ternyata tetap berpeluang menyebabkan radang tenggorokan.
Wah-wah-wah, lalu apa dong camilan untuk anak yang aman? Kira-kira mau apa tidak ya kalau dibelikan jajan pasar?

Sisi baiknya,
Mungkin kelak saat dia semakin besar akan tergila-gila pada yang namanya sayur dan buah (hehe, ini saya banget!). 
Bagus kan?
Berhubung saya dulu juga seperti itu, apa-apa tidak boleh, apa-apa bikin sakit, akhirnya yang paling aman ya hanya ngemil buah dan sayur. 
Tak apa ya nak, yang penting kamu selalu sehat...

The Kite Runner

Buku ini mengisahkan tentang persahabatan, cinta, keluarga sekaligus tentang pengkhianatan. Ceritanya menarik, karakter tokoh-tokohnya kuat. Meskipun ada beberapa bagian yang "agak seram" karena settingnya peperangan. 
Setting cerita ini di Afganistan sebelum dan sesudah perang (Bagian itulah yang menyeramkan), kebudayaan Afganistan semakin memperkuat jalinan ceritanya.
Sayangnya ada beberapa tokoh "dimatikan" yang membuat cerita ini menjadi sebuah kisah sedih, walaupun akhirnya happy end (mmm, saya memang tidak terlalu suka membaca kisah-kisah menyedihkan. Saya lebih suka membaca novel yang berakhir dengan semua bahagia). 
Dijamin tidak menyesal membacanya!
 Akhirnya,
Novel setebal 400 sekian halaman itu berhasil saya selesaikan.
Walaupun kadang harus berantem dulu dengan anak saya -dia tidak suka saya terus-terusan memegang buku, jadi rebutan deeeh!

Friday, May 20, 2011

Dream...

Semalam,
Aku bermimpi tentang kita.
Bercerita.
Sama seperti dulu. Hanya bercerita.
Masa lalu.
Betapa ingin kembali ke sana!

(tapi kita tidak hidup untuk masa lalu. roda terus berputar, hidup terus mengalir seiring dengan adanya keajaiban-keajaiban kecil. memang hanya sebuah mimpi...)

Kena Deh!

Asli,
Tenggorokan terasa panas. Leher terasa kering. 
Nyeri.
Di sudut kanan leher teraba benjolan sebesar kacang.
Radang tenggorokan!

Ada beberapa pilihan untuk mengatasi radang tenggorokan:
Pertama, paling mudah dan paling menyebalkan. Pergi ke dokter, mendapat 9 biji antibiotik yang baunya Innalillah (amoxicillin) untuk 3 hari ke depan dan menderita 3 kali sehari tiap mau minum (kapsulnya gede, baunya muinta ampun). Kemungkinan sembuh hampir 100% asal tahan dengan bau amox. Tidak perlu diskusi dengan suami soal ini, dijamin akan berakhir dengan dia mendiamkanku seharian (pasti disuruh ke dokter). Jadi, bukan pilihan menarik, ini pilihan terakhir!
Pilihan kedua, minum air putih 2 liter akan mengurangi radang (pernah dicoba), mudah, murah, praktis, dan....capek. Bolak-balik ke kamar mandi!
Pilihan ketiga minum madu dicampur air hangat, jangan lupa vitamin c dosis tinggi (500mg). Gampang, tidak menyiksa, hanya agak lama sembuhnya.

Kemarin,
Sok-sok an minum air dingin. Sekali, dua kali, tiga kali....kena radang deh!
Same as usual!

(salah sendiri, sudah tahu, nekat pula ^-^).

Tanggal Merah dan novel baru


Satu-satunya yang kucari bila menatap kalender adalah angka yang berwarna merah.
Tanggal merah, liburan.
Di tanganku sudah terselip "The Kite Runner" dan "To Kill The Mocking Bird" {eits, jangan salah, meskipun judulnya berbahasa Inggris isinya tetap saja terjemahan. Aku pernah memaksa membaca The Silver Chair versi Inggrisnya, dan yang kudapat hanyalah satu bab yang tuntas kubaca. Pusing. Terlalu sering membolak-balik kamus, sementara aku keburu penasaran dengan ceritanya -belakangan aku baru tahu, kalau versi Indonesia mungkin Narnia karena isinya sama}.
Di kalender ada beberapa tanggal merah.
Klop.
Itu namanya pucuk dicinta ulam tiba.
Apalagi, suami sudah woro-woro tidak ingin membaca keduanya. 
Males. 
Oh, syukurlah. Tidak perlu rebutan buku (seperti biasanya) sampai bukunya kucel. Tidak perlu akal-akalan menyembunyikan pula. 
"Liburan mau ke mana?" tanya suami.
"Ke mana aja deh,"jawabku.
Acara utama kalau hari libur adalah jalan-jalan bertiga. Jadilah kami seharian keluar. Pagi, siang, malam.
Yahh, sama juga bohong!
Pembatas buku di The Kite Runner masih tetap tidak bergerak, To Kill The Mockingbird masih utuh rapi belum tersentuh.
Mungkin next time aku lebih beruntung...

Thursday, May 19, 2011

Sebatas novel dan monitor

Kalau boleh jujur,
menunggu anak sakit itu tidak menyenangkan. 
Lelah setelah seharian bekerja, tidak ada sepertiganya bila dibandingkan dengan lelahnya menjaga anak yang sedang sakit. 
Tidak hanya lelah secara fisik, tetapi lelah secara mental. Dan justru yang membuat rasa lelah semakin berlipat ganda adalah pikiran yang kacau saat anak tidak kunjung sembuh.
Tapi untuk alasan apapun, saat anakku sedang sakit, terbaring dengan wajah memerah seperti kepiting rebus (wajah khas demam tinggi) yang aku inginkan hanya satu.
Menungguinya!

Walaupun agak jengkel karena anak rewel, tidak mau ditinggal ke mana-mana dan punggung pegal setengah mati, itulah yang aku lakukan. Membujuknya untuk sekedar makan, minum, bahkan membacakannya buku cerita bila acara TV tidak lagi menyenangkan hatinya.
Dan kegiatan yang bisa kulakukan hanyalah membaca 'The Kite Runner" setebal 400 sekian halaman atau browsing di dunia maya, sekedar posting blog. 
Hanya itu.
Karena hanya dua kegiatan itu yang dapat kukerjakan sementara aku tidak beranjak kemana-mana. 
Mencuci?
Jangan harap.
Masak?
Apalagi. 
Atau kalau nekat juga, dalam hitungan detik akan segera terdengar teriakan melengking (yang dari jarak 1 kilo pun masih terdengar) ......
uuuuumiiiiii! 
(dengan gaya khasnya memanggil: u yang terdengar seperti o dan mi' yang terdengar seperti pengucapan me pada kata mecca)

Jadi,
kunikmati saja mengkhatamkan novelku -yang sudah satu minggu baru kuselesaikan separonya,
atau 
kunikmati saja sepuasnya di depan monitor tanpa ada yang ribut meminta gantian.

Laryngitis

 Dalam seminggu ini entah sudah berapa kali aku bolak-balik ke PKU. Entah itu periksa atau sekedar membesuk. 
Sekali lagi, siang ini aku ke sana.
Karena panas yang tidak kunjung reda, aku harus segera membawa anakku ke dokter. Kemungkinan radang tenggorokan (dari bibirnya yang merah banget pasti ada panas dalam) yang hanya bisa reda setelah mendapat antibiotik. Dan diagnosa dokter tidak jauh meleset dari perkiraanku.
Radang hebat di tenggorokan!
"Suka makan chiki ya?"
Aku menggeleng.
Dia belum pernah makan chiki, memang tidak kukenalkan karena tenggorokannya sensitif.
"Habis makan coklat? Atau permen?"
Wah, itu dia!
"Cuma yupi dok. Atau sama aja permen ya?" ralatku buru-buru. Konyol, memungkiri bahwa yupi bukanlah permen.
Sang dokter terkekeh. 
Sama aja ada pengawet, pemanis, dan pewarna, katanya.
Oups, itu dia penyebab radangnya. Anakku tiap hari makan yupi. Tidak cuma satu malah!

Biasanya, bila panas karena radang minimal dua hari baru reda.
Panas yang semakin tinggi membuatku panik juga. Angka 40 di termometer masih belum berhenti.
Bingung. 
Kata dokter, parasetamol hanya 4x sehari. Wah, bakalan lebih tinggi kalau panasnya tiap 4 jam meningkat! Biasanya yang kupakai sanmol, ada rekomendasi dsa bila perlu bisa 4 jam sekali. 
Tapi parasetamol sirup??? 
Aku baru sekali ini pakai, dapat dari periksa THT kemarin. Meskipun isinya sama-sama paracetamol, aku tidak tahu kandungan keseluruhan, apa dosisnya sama atau ada yang lebih tinggi.
Bingung!
Memaksa pemberian tiap 4 jam, takut overdosis. Paracetamol dirombak di hati, sepertinya untuk overdosis bukan pilihan. 
Pilihan kedua, menunggu waktu minum obat sambil dikompres. 
Bukan pilihan juga karena dalam waktu 4 jam panasnya akan merambat naik dengan pasti. Terlalu lama mendapat turun panas juga bukan pilihan. Menakutkan, bila termometer menunjukkan angka 41 atau bahkan lebih.
Pilihan ketiga....
Tetap kuberikan paracetamol tiap 4 jam dengan pemberian setengah dosis.
Deal.
Agak nekat, tapi mudah-mudahan berhasil. Menurut hitunganku, hasil akhirnya tidak melebihi dosis yang dianjurkan dokter.
Bismillah...

Wednesday, May 18, 2011

Sedihnya!

Sedihnya bila anak sakit.
Baru satu minggu sembuh, anak saya sudah panas lagi.
Sedih.
Tidak terlalu tinggi memang, tapi sudah cukup membuat terjaga semalaman.
Sedih.
Tapi tak apa. 
Sepertinya hanya pilek saja. Sudah terlihat ingusnya meleleh keluar, itu lebih aman daripada hanya panas tanpa disertai batuk pilek. 
Lebih mendebarkan!
Tapi tadi di langit-langitnya sempat terlihat bintik-bintik merah. 
Mungkin hanya bintik-bintik biasa.
Mungkin panas dalam.
atau....
Flu singapura!
(again? wuaduh...)
Hmm, kalau besok masih panas tinggi terpaksa ke dokter lagi. 
Kata dokter THT, kalau balita sakit meski cuma batuk pilek tidak boleh lebih dari 3 hari -tanpa penanganan dokter. Beresiko terhadap kesehatan telinganya.
Sedihnya kalau si kecil sakit...

So sad...

Sedih.
Sedih, rasanya bila disalahkan. Lebih-lebih, bila itu teman sendiri (kami sudah merasa bersalah, tidak perlu diperpanjang lagi, cukuplah sudah!).
Maaf bila seseorang merasa menjadi kambing hitam.
Maaf,
(Bak detektif) aku berusaha mencari akar masalah itu (dan ketemu!), segera menyelesaikannya agar tidak memakan korban lebih banyak (lagi-lagi maaf kalau ada yang terkena getahnya).
Tutup buku, cukup sekian, aku harap tidak perlu dibahas lagi.
Finish!

Monday, May 16, 2011

Sepasang Sepatu Sandal Baru

Satu malam sebelum mengantar anak-anak ke Malang, suami meminta saya untuk menemaninya mencari sepatu sandal yang cocok. Maklum, ukuran kaki suami saya lumayan sulit dicari.
Malam itu sudah menunjukkan pukul 8 malam. 
Terlalu malam sebenarnya untuk mulai hunting sesuatu.
Pucuk dicinta ulam tiba.
Sepasang sepatu sandal itu berhasil kami temukan tidak jauh dari rumah (nyaris hujan, kami tidak berani pergi agak jauh, berjaga-jaga agar tidak jatuh sakit). 
Ukuran pas dengan harga yang pas juga (sebenarnya dapat diskon karena pemiliknya wali murid sekaligus tetangga).
List bawaan piknik terpenuhi.

Sampai rumah, si kecil telah menunggu.
Begitu melihat sepasang sandal baru, dia tidak mau kalah. Ikut-ikutan mencoba walaupun ukuran kakinya hanya seperempat ukuran sandal itu.
Yeah, anak kami memang tidak bisa melihat barang baru. Apapun yang masih baru selalu menarik perhatiannya! 
"Tadi ada yang kecil, besok ya kita beli," ayahnya kelepasan.
Waduh! Salah omong. 
Dia tidak bisa mendengar kata besok kalau urusan beli-membeli, semua harus sekarang.
"Mi. Ayo sekarang beli sandal," kata anak saya sambil melirik dengan pipi cemberut.
Hmmm, pukul 9 malam mana ada yang jualan? 
Bakalan rewel ini...
Beruntung, ada bantalan stempel yang mampu menghibur anak saya. Meskipun ayahnya sewot, lantai belepotan tinta.

(Ternyata, lama tidak pakai sandal, memang sandal anak saya sudah tidak muat lagi. Kekecilan! Besok ya naak...)


Senin Yang Aneh

Agak aneh, melihat Senin ini seharusnya libur panjang sedangkan aku harus tetap bekerja. Maklum, walaupun para pegawai libur tapi urusan sekolah tetap saja masuk. Walaupun hanya setengah hari saja. 
Tetap harus disyukuri, Alhamdulillah.
Agak aneh,
Melihat anak-anak biasanya penuh, hari ini hanya berangkat separo.
Agak aneh,
Biasanya full pekerjaan, hari ini sedikit longgar, punya banyak waktu luang.
Semuanya harus disyukuri.
Alhamdulillah.

Pulang sekolah, kami (saya, suami, dan zayyan) mampir ke rumah sakit -PKU- membesuk Fadhil yang masuk rumah sakit pagi kemarin.
Muntah-muntah dari jam dua pagi sampai siang tidak berhenti. Bahkan setelah diberi obat anti muntah sekalipun. 
Jadilah akhirnya harus bobo' di rumah sakit dengan dipasangi selang infus di pergelangan tangan.
Cerita ini membuat saya kembali mengucap syukur.
Meskipun saya bolak-balik ke PKU (periksa ke dokter anak), saya masih beruntung karena anak saya masih bisa obat jalan.
Jadi ingat dulu, 
Anak saya pernah dua kali muntah-muntah seperti kasus Fadhil itu, dan Alhamdulillah, reda dengan obat anti muntah. Alhamdulillah tidak dehidrasi walaupun harus menghabiskan pedialit 500ml berbotol-botol.
Lagi-lagi: Alhamdulillah!

Pulang dari rumah sakit, anak saya rewel. Minta beli (maksudnya belanja). Aduh, ini anak kok sepertinya hobby belanja ya...
Perasaan orang tuanya hanya ke toko untuk membeli keperluan rumah tangga saja. Enggak suka keluyuran keluar masuk toko (kecuali toko buku sih, hehehe, bukan untuk beli -waduh jadi maluuuu- nebeng baca aja, kalau ada yang nyantol di hati baru beli!)

Deg-degan banget, menuruti keinginan anak. 
Biasanya, dia maunya beli mainan. Wah, kalau sudah pegang mobil-mobilan dijamin susah lepasnya. 
Lalu saya akan merasa berada dalam persimpangan jalan. 
Di satu sisi, apalah artinya membelikan mainan? 
Tapi di sisi lain, saya tidak terlalu senang bila anak saya sering membeli 'mainan jadi'. Saya lebih senang kalau dia bermain dengan kardus bekas, panci, sendok, atau barang lain yang tidak berwujud mainan. 
Kreatifitasnya akan lebih berkembang dengan mainan seadanya.

Akhirnya kami sepakat.
Anak saya minta dibelikan buku tulis dengan cover upin-ipin, bukan mainan!
Sambil tersenyum, saya berkata bahwa buku itu kosong, tidak ada gambarnya. Eh, dia ngerti. Katanya, tidak apa-apa nanti bisa ditulisi di rumah (surprise lho, dia ngerti yang dia mau itu buku tulis).
Deal!
Jadilah buku bersampul upin-ipin itu kami beli. Anak saya pulang dengan sumringah, saya juga lega ternyata bukan mainan yang dia inginkan.
Usai berganti baju (kebiasaan bila pulang dari rumah sakit harus ganti baju) sekaligus cuci tangan dan kaki, anak saya minta minum susu. Tumben dia tidak minta saya temani.
Anak saya tidur dengan ayahnya!
Memang, Senin yang ajaib!


Sunday, May 15, 2011

Long Vacation

Long week end, long vacation.
Sepupu di Kalimantan pulang, keluarga budhe semua kompak menengok sepupu yang baru saja pindah rumah.
Kalau semua ngumpul seperti ini, acara sakral di keluarga kami berlanjut. Masak bareng, makan bareng, mencuci bareng. Well, walaupun aku hanya ikut yang bagian makan barengnya saja ^-^
Happy holiday!
(jarang-jarang kan dapat libur panjang...)

Kemarin,
Dua kawan yang sedang ulang tahun ditodong. 
"Ayo dong, bakso Idola."
Yang kena buru-buru melarikan diri sambil ber dag-dag-daaaaa dengan riang. Melarikan diri!
Namanya baru rezeki dapat bakso, pagi-pagi tetangga sebelah (yang masih kerabat) mengetuk pintu. 
"Ini bulik ada arisan," katanya sambil menyodorkan 3 mangkuk bakso. Lengkap dengan sambal yang merah menyala dan taburan caisim yang gede-gede.
(Anakku yang memang senang makan bakso langsung cengengesan)
Suara telfon bernyanyi mengabarkan seorang kerabat lain  baru saja masuk rumah sakit, anemia dan harus transfusi -ini berita sedihnya.

Lengkap sudah peristiwa pagi ini.
Ada susah, ada senang.
Seperti roda yang selalu berputar. Kadang menggelinding di masa-masa membahagiakan, kadang berada di saat getir penuh kepedihan.
Itulah seninya hidup!

Untuk yang hari ini Ulang Tahun,
Barakallah.
Semoga sehat, tentram, dan bahagia. Semoga mendapat umur yang panjang dan bermanfaat. Semoga semua lancar hingga memperoleh rizqi yang berkah.
Barakallah. 
Semoga tercurah untukmu.
Selalu.

Untuk yang hari ini tidak Ulang Tahun,
Semoga keselamatan dan kebahagiaan selalu melimpah juga untukmu.
Semoga diberi bimbingan-Nya dalam menjalani hidup.

Amin!



Maher Zain

Beberapa bulan yang lalu, aku membaca sebuah blog -yang judulnya aku sudah lupa. Dari bahasanya seperti malaysia punya. 
Pemilik blog itu sangat menyukai Maher Zain.
Maher Zain.
Siapa dia?
Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya. O, mungkin singer dari rumpun melayu sana juga, batinku waktu itu.
Nama Maher Zain baru aku kenal setelah dia tampil live pada suatu malam di sebuah TV swasta feat Fadli Padi. 

Nice Songs!
Tanpa pikir panjang aku cari about him di dunia maya.
I got it....

Pantas, pemilik blog -yang aku lupa namanya itu- sangat menyukai Maher Zain:
Ada banyak alasan untuk tidak berkata: 
"Aku tidak suka dia."

Suaranya bagus
Lyricsnya memberikan inspirasi dan semangat
Lagu-lagunya terkesan 'ringan' walaupun sebnarnya isinya berbobot (kemasannya indah, tidak seperti lagu religi yang biasanya cenderung lebih serius)
Perjalanan hidupnya yang mengesankan (proses dia memilih untuk menjadi religius singer), aku selalu takjub dengan perjalanan hidup para mualaf.

terakhir, ini alasan pribadiku:
dia punya lesung pipit!
^-^

Saturday, May 14, 2011

Maher Zain (Biografi)


Biografi Maher Zain
Ketika memutuskan menjadi penyanyi, Maher Zain memilih jalur yang berbeda. Musik yang diusung sebenarnya sudah jamak ditemui. Dia memilih jalur pop modern, R&B, dipadu dengan musik Arab. Namun, syair yang ditulisnya adalah syair yang mengusung napas Islam. Karena itu, dia kerap disebut sebagai Islamic singer.

Bagi Maher, terkenal bukanlah misinya saat menjadi penyanyi. Dia ingin menyampaikan pesan kepada pendengar. Memberinya harapan, menginspirasi, sekaligus memberikan alternatif hiburan dengan musik yang berkualitas. "Bukan untuk menunjukkan identitas saya, namun lebih kepada menyebarkan cinta dan kebaikan. Saya yakin, banyak anak muda seperti saya di dunia ini. Mungkin saya bisa membagi pengalaman yang saya miliki. Cara terbaik yang bisa dilakukan adalah melalui musik," katanya.

Berbicara tentang Islam, Maher memiliki perjalanan spiritual sendiri. Dia memang dilahirkan di keluarga muslim. Tapi, kemudian dia pindah dari Lebanon ke Swedia. "Jujur, saya baru belajar mendalami Islam saat berusia 26 tahun. Seharusnya saya bisa belajar lebih awal," kata pria yang lahir pada 16 Maret 1981 tersebut. Tapi, tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik. Itulah yang dia katakan.

Setelah mendalami Islam sebagai keyakinan, Maher menyadari bahwa didalamnya terdapat banyak cinta. Dia pun ingin menyebarkannya. "Menjadi penyanyi Islam buat saya tidak sekadar melantunkan lagu dengan bahasa Arab atau mengucapkan allahuakbar, insya Allah, atau subhanallah. Islam adalah pemberian terbesar dari Allah yang mengajarkan cinta dan kedamaian. Cinta kepada ibu, saudara, tetangga, teman, istri, dan sesama. Sangat luas," jelasnya.

Bagi Maher, Islam bukan hanya gaya hidup, tapi juga pegangan hidup. "Islam itu hidup saya. Saya sadar, kalau tidak mengamalkannya, saya tidak akan bisa melakukan apa-apa. Berdoa buat saya seperti manusia membutuhkan makan dan tidur," tambahnya. Sebab itu, Maher ingin melanjutkan apa yang sudaj dilakukannya tersebut sampai waktu tak terbatas. Dia ingin lebih banyak lagi orang yang menerima pesan dari lagu-lagunya. Membuat mereka menjadi lebih baik dan menebarkan cinta serta kedamaian seluas-luasnya.

Sebagai seorang anak, Maher menyatakan senang karena apa yang sudah dilakukannya sekarang ini bisa membuat orang tua bangga. "Orang tua saya sangat bangga. Saya juga bahagia bisa membuat mereka bangga. Mereka sangat mendukung apa yang saya kerjakan sekarang ini," katanya senang

Keluarganya pindah ke Swedia ketika Maher Zain berumur delapan tahun, di mana ia melanjutkan sekolahnya. Maher Zain mampu menguasai keyboard pertama ketika ia berumur sepuluh tahun. Dia kemudian memasuki Universitas dan mendapat gelar sarjana dalam Aeronautical Engineering selama masa remajanya, dia menghabiskan malam sampau larut dengan teman-teman sekolahnya di mana mereka bernyanyi, rap, menulis dan bereksperimen dengan musik dalam segala hal. Musik yang di bawakan oleh Maher Zain terinspirasi oleh sang ayah yang juga seorang musisi handal di kota Tripoli, Lebanon.
 Bakat musik Maher Zain telah terlihat semenjak ia masih muda dengan menjadi produser musik di Swedia. Namun menurut Maher Zain, dunia musik yang ia geluti yang menawarkan banyak kemewahan membuat ia merasa ada yang kurang, dan bahkan ada yang salah. “Saya sangat mencintai dunia musik, namun saya tidak menyukai hal-hal yang ada di sekilingnya, seperti ada yang salah dengan hal ini.”

Pada akhirnya Maher Zain menemukan jawaban dari keraguannya dalam bermusik setelah ia bertemu dan tergabung dalam Komunitas Muslim yang ada di Stockholm. Semenjak itu Maher Zain pun mulai aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan di masjid dan Ia merasa di sinilah arti sebuah rumah baginya.

Maher Zain merasa bersyukur akhirnya dapat menemukan cara yang tepat, dan Ia merasa sekarang gilirannya untuk membantu orang lain melalui musik untuk melakukan hal yang sama. “Jika aku punya satu hal yang mana aku ingin sampaikan kepada orang di luar sana, bahwa sangatlah mudah untuk melihat jalan yang benar jika kita hanya membuka mata dan melihat dengan benar, itu yang terjadi padaku.”

Setelah terlibat untuk sementara sebagai produser musik, Maher Zain diperkenalkan ke RedOne, seorang produser musik di dunia musik di Swedia. Maher Zain mulai bekerja dengan RedOne dan kemudian pindah ke New York. Pada bulan Januari 2009, Maher Zain mulai bekerja pada album dan ditandatangani dengan Awakening Records.

Maher Zain telah berpartisipasi konser gratis di Bahrain, dan juga di konser Spring di Universitas Amerika di Kairo, Mesir. Album Maher Zain yang pertama berjudul “Thank You Allah” menduduki peringkat pertama di Dunia Amazon grafik Musik dan sembilan tempat di chart R & B. Pada bulan Januari 2010, Maher Zain lagu berjudul “Ya Nabi Salam Alayka” telah berhasil memenangkan gelar sebagai lagu terbaik agama pada tahun 2009 dalam kontes musik yang diselenggarakan oleh Nujoom FM.

Video musik terbaru Maher Zain “The Chosen One” menceritakan kisah kehidupan dan ajaran Nabi Muhammad SAW yang didasarkan pada perdamaian, tercatat di Los Angeles. Ini jelas menunjukkan Maher Zain sekarang membawa musik Islam ke tingkat yang lebih tinggi baru.

Semoga Maher Zain tetap istiqomah dan tetap melahirkan karya-karya Islami, dan kita bisa mencontoh kegigihan beliau dalam menegakkan Syiar Islam.


At 7th o'clock

Semalam, ibu menyuruhku tidur di rumahnya saja.
"Gak usah pulang, wong cuma berdua di rumah," pinta ibu agar kami tidak pulang, saat pukul 8.15 malam kami siap-siap pulang ke rumah.
Zayyan sudah oke, tapi aku yang pengen pulang.
Lain waktu aja deh zay...
"Kalau suami pagi-pagi pulang, enggak ada orang di rumah kan kasihan," jawabku.
Jadilah kami berdua saja tidur di rumah. Tekadku sudah bulat. Tidak akan membuka pintu kalau ada tamu (kecuali sodara).
Takut dengan hantu dan semacamnya sih tidak, kepalaku masih bisa berfikir jernih. Aku lebih takut kalau  ada orang yang berniat jahat. Membuatku merinding.
Hiiii.

Ketika zayyan minta ke kamar mandi, saat jam dinding di kamar tepat menunjuk angka 7, pintu diketuk.
He's coming...
"Mumpung libur, nanti jalan yok!"
Walah.
Kaya pakai alkaline aja. Biasanya juga tidur seharian dulu baru badannya seger.
Belum ada setengah jam ngomong, sudah nguap-nguap. (Mmmm, alamat....)
Padahal anaknya masih kangen tuh, tidurnya digangguin terus!
Welcome home dad!

Panic Attack Jilid 2


Kata orang, sebodoh-bodohnya keledai adalah yang terjatuh dua kali di lubang yang sama.
Satu minggu, dua kecelakaan.
Lalu aku ini apa?
Lebih parahkah dari keledai? (hiks, sediiih!)

Menemani anak-anak berenang adalah kegiatan yang menyenangkan. Tertawa, asyik bermain air, semua bergembira. Tapi, keriangan pagi itu pecah saat terdengar pekik ngeri guru renang.
Oca terjatuh.
Tergeletak di bawah shower, terbanjiri air.
Tergopoh-gopoh kami menolongnya.
Berbagai macam perasaan campur aduk. 
Panic attack!

Bagiku,
Seperti melihat slide yang berputar. Belum satu minggu ini aku dengan tangan gemetaran menggendong anakku ke ugd. Belum ada satu minggu!
Tragedi itu terulang lagi.
Terjadi lagi.
Bayangan anakku, ugd, dan oca yang tergeletak di lantai silih berganti memenuhi ruang kepalaku. Berakhir dengan kepala serasa dipukul dengan ribuan godam.
Pusing.
(sungguh buruk manajemen stressku)

Keramaian di ruang makan tidak menghentikan air mataku.
Aku menangis.
Meskipun air mata itu tidak perlu tumpah, aku menangis.
Aku tidak butuh alasan untuk menangis.
Hanya karena aku ingin.
Aku takut.
Sungguh, aku sangat takut.
Hanya karena ingin sedikit mengurangi takut itu, maka aku menangis.

Segelas besar air putih dan beberapa kali menghirup nafas panjang mampu menjernihkan pikiranku lagi. Tidak lagi seperti zombie -badan yang terlihat tegak, tapi pikiran kosong tak menentu. Harus segera membawa oca ke rumah sakit. 
Yeah, lagi-lagi ugd. 
Menyebalkan, tapi harus dilakukan. Aku tidak bisa menunggu lama untuk segera memastikannya baik-baik saja.

Kata dokter, tidak apa-apa, tapi harus waspada 8 jam ke depan. Bila muntah, pusing, atau panas harus segera dibawa ke rumah sakit.
Still waiting.
Menunggu memang menyebalkan.
Tapi, hanya itu yang bisa dilakukan.



Besok Pagi Adalah Satu Minggu

Konon, rasa takut yang paling besar adalah ketakutan yang berasal dari diri sendiri. Malangnya, rasa takut itu terkadang lebih menguasai diriku.
Berkali-kali kuyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
Besok adalah waktu zayyan kontrol ke THT.
Jujur, aku takut sekali. 
Aku takut bila semua "tidak baik-baik saja". 

Aku jadi ingat isi email bertahun-tahun lalu. Seorang teman yang telah mengirimkannya. Isinya banyak, tapi sepenggal kalimat yang aku ingat:

Ketika kita meminta kepada Tuhan agar diberi-Nya kekuatan, maka yang Dia berikan adalah cobaan. Karena cobaan akan membuat kita semakin tegar.

Besok adalah satu minggu.
Saatnya zayyan kontrol. 
Saat untuk meyakinlah bahwa semua baik-baik saja.

Berdoalah untukku.
Berdoalah bersamaku.
Tolonglah doakan, agar semua baik seperti semula.

When He Go...

Beberapa hari yang lalu, aku sempat menggoda rekan kerjaku yang sedang bersusah hati ditinggal suaminya ke Pekalongan.
"Walah bu. Cuma satu hari saja kok ya..."
"Biarpun sehari, susah!"
Rekan yang lain menimpali.
"Aku juga tidak bisa membayangkan kalau suamiku pergi."

Besok, suamiku akan pergi.
Tiga hari ke Malang mengantar anak-anak study tour. Secara matematis hitungannya tiga hari. Padahal, aslinya sih hanya sehari semalam.
(Memang susah kalau suami pergi. Inginnya sih ikut saja)
Kawanku sudah sibuk menitip pesan, "Bu. Pesan untuk suami jangan lupa ya...Jangan lupa oleh-olehnya lho. Ditunggu."
Show must go on.
Aku hanya berharap semoga semua lancar dan aman.
Baik saat berangkat besok malam, hingga kembali Ahad pagi nanti.
Amin!


Waiting For Your Phone


Kadang,
Menunggu telfonmu (walau sekedar say hello)
Menunggu short messagemu

Kadang,
Aku masih menunggu.

Remember My Sweet Moments (video)

OST ini lho, yang dulu aku cari-cari. Tapi baru di upload sekarang (ssssst, baru ngerti cara uploadnya sih, kemaren belum sempat coba-coba). Ada beberapa versi: durasi 60 detik, 2 menit, dan yang lain versi bukan versi resmi dari Tropicana Slim.

Ini dia full version-nya....

Be healthy son!

Sebelum suami ke Malang, aku bilang padanya untuk menuntaskan keluhan zayyan.
Deal!
Kami bawa zayyan ke THT lagi. Sekedar memastikan he's gonna be fine.
Dia menangis keras.
Gagal membujuk, kami tetap menggendongnya untuk diperiksa.
Dokter tersenyum. 
Kami melihat lewat monitor yang terpasang di dinding. 
"Semua bagus kok. Lukanya sudah sembuh. Kalau hanya terkena liang telinga kan cepet."
Alhamdulillah. 
Alhamdulillah.
Segala puja dan puji hanya kepada-Nya.
"Memang masih ada bekuan darah yang tertinggal. Tapi itu tidak mengganggu, tidak usah diapa-apakan, biarkan saja. Tunggu 4 atau 5 bulan lagi. Baru dibersihkan sekalian kotoran telinganya."
Alhamdulillah.

Aku jadi ingat film Three idiots. Mereka punya kalimat keramat All is well dengan pengucapan al is wel (bukan ol seperti pronounce aslinya).
Seperti itulah yang kami rasakan.
Semua lega.
Berakhirlah masa-masa penantian.
Berakhirlah saat-saat mendebarkan.
Alhamdulillah!
Be healthy son!
And always happy...

Lonely


Aku sendirian!
Anakku sudah tidur, suami dalam perjalanan menuju Malang -tidak bisa telfon atau sms, bisa-bisa tidak tidur dia.
Tanpa buku baru.
Saat buka blog.....
                       taaadaaa
tidak bisa diakses.

Sorry, your content have been removed. Your blog cannot be acess for a while. We're  sorry for this delayed.

Menyebalkan.
Malam masih panjang, aku sendirian, tanpa ada yang bisa kukerjakan.
Betapa malangnya...
(kalau mau jujur sih, ada setumpuk baju yang belum disetrika, ada kumpulan baju kotor menunggu, piring-piring masih berbau makanan, tapi capek ^-^)

Sepinyaaa.....

Tuesday, May 10, 2011

Still waiting

Menunggu.
Aku masih menunggu.
Aku masih menunggu kabar gembira itu.
Aku masih menunggu kabar bahwa semua baik-baik saja.

Dan hilanglah gundah.
Hilanglah sedih.
Pergilah takut.

Still waiting...
Menunggu.
Menunggu hingga semua akan menjadi baik-baik saja.

Still waiting!

Maafkan Aku.

Aku pernah berjanji akan selalu sehat.
Tapi maaf.
Aku tidak bisa memenuhinya.
Bukan karena aku melanggar janji, tapi karena kondisi yang memaksa begitu.
Aku juga tidak ingin sakit.
Aku ngerti kok sakit itu enggak enak.
Jadi maafkanlah. 
Aku sakit bukan karena melanggar janji.

Bila malam-malam harus terjaga dengan termometer di tangan, ditambah botol obat, dilanjutkan dengan tidak bisa tidur lagi.
Bila mulut terasa pahit (meskipun tetap saja kujejalkan beberapa sendok nasi).
Bila kepala sudah terasa jungkir balik.
Bila dunia terasa berputar.

Maka maafkanlah aku.
Setelah semua berlalu,
Pasti semua akan kembali seperti semula.
Semua akan menjadi baik lagi.
Percayalah!

Puasa bicara

Agak rumit ketika pikiran sedang kacau, sedang tidak fokus, sementara aku harus selalu tersenyum.
Beberapa pertanyaan sederhana sampai harus aku ulang agar jawaban yang aku berikan tidak simpang siur. 
Jadi, daripada aku capek-capek harus bertanya: "Benar tadi pertanyaanmu ini?"
Lebih baik aku umumkan saja: 
" Sudah. Aku tidak mau ngomong lagi. Dari tadi ngomong kok salah melulu. Tanya ini, aku jawab itu. Sudah. Aku enggak mau ngomong lagi."

Mestinya aku pamit saja daripada bekerja tapi pikiran di rumah.
Tapi ada beberapa pekerjaan yang belum selesai dan tidak mungkin menunggu.
Meskipun akhirnya ya seperti itu. 
Tanya apa, aku jawab lainnya.
Maaf...

Dunia terasa sedikit lebih cerah ketika dokter menemukan ada radang di tenggorokan Zayyan. Dia masih mau makan, mau minum (meskipun hanya teh saja), dan masih mau ngomong!
Harapan ini tumbuh lagi.
Semoga, semua akan baik-baik saja.
Everything gonna be okay.
I hope...
Semoga.

Please, deh...

Saat pulang dari rumah sakit suami berpesan, "Tidak usah cerita kepada bapak-ibu tentang telinga zayyan, daripada dimarahi."
Kujawab dengan ringan bahwa tanpa aku ceritapun pasti mereka tahu. Tidak mungkin zayyan diam. Dia pasti cerita lebih dulu. Yakin, baru masuk rumah saja dia bakalan cerita macam-macam.
Dan benarlah.
Tebakanku 100% jitu.
Semua terkendali.
Tidak ada amarah dari orang tua. Hanya wanti-wanti agar lebih berhati-hati menjaga anak.

Beberapa telfon berdatangan.
Sekedar bertanya tentang kabar zayyan.
Menjawabnya saja sudah membuat mataku sembab.
Apalagi ditambah cerita: "Tahu nggak, dulu kan si om pernah juga, ternyata jadi infeksi. Ngobatinya lama. Si embak itu juga pernah, sampai harus operasi, gagal. Jadinya seperti itu."
Please, deh.
Itu tidak membantu.
Benar-benar tidak membantu.

Please, deh.
Itu tidak membantu.
Hanya menambah aku makin pening saja.
Hanya menambah aku makin ngeri saja.
Makin lengkap pula saat zayyan susah diobati. 
Jadi tolonglah. Stop!
Please,deh.
Jangan diteruskan. 
Itu benar-benar tidak membantu.

Beberapa kawan berkata: "Salam buat zayyan. Semoga lekas sembuh."
Hanya itu.
Thank's alot...
Yang hanya kujawab dengan senyum tipis kemudian dilanjutkan "mengamini dengan sungguh-sungguh" berharap ada malaikat lewat dan ikut mengucap amin dengan sepenuh hati bersamaku.

Maaf, saat ini aku tidak siap mendengar berita buruk.
Aku hanya ingin mendengar: "Tenanglah. Semua akan baik-baik saja."
Sesederhana itu.

4 Days Later

Perasaanku belum membaik.
Masih kacau.
Air mata masih saja bererai-derai bila seseorang bertanya " Gimana zayyan sekarang?"
Masih sedih.
Makin tak menentu saat zayyan panas tinggi. 
Entah kebetulan, entah berhubungan. 
I don't know. 
Aku hanya tahu zayyan segera kubawa ke dokter saat panasnya mencapai 39 dan tidak mempan sanmol. Meskipun aku juga tahu pasti hanya ada jawaban standar (yang terlalu sering kuterima): " Belum menunjukkan gejala tertentu. Bila tiga hari tidak turun, silahkan cek lab!" 
Jujur, aku takut.
Sangat takut.
Tapi aku hanya bisa menunggu.

Saturday, May 7, 2011

Setelah di Rumah Sakit

Tidak ada peristiwa di dunia ini yang tidak tercatat di langit.
Semua peristiwa tentu saling berkaitan dan ada hikmahnya.
Contohnya pada kasus anak saya itu.
Kurang lebih sembilan bulan yang lalu dia memasukkan plastisin (was, ada yang menyebut lilin mainan, ada juga yang menyebut malam) ke dalam telinganya.
Waktu itu saya sudah merasa ngeri melihat telinga anak saya berwarna hijau (karena plastisinnya berwarna hijau) ternyata itu belum ada apa-apanya dibandingkan yang saya alami semalam.
Di satu sisi alhamdulillah, saya bersyukur sudah pernah ke poli THT, sudah mengerti prosedur pemeriksaannya.
Meskipun di sisi lain senam jantung juga.

Ada beberapa hal yang dapat saya ambil hikmahnya:
Yang pertama, tentu saja jangan menaruh sembarangan pernak-pernik kecil di tempat yang terjangkau. Misalnya manik-manik, cotton buds, gunting pisau atau benda tajam lainnya. Hmm, jangan lupa pula menaruh obat di tempat tinggi.
Saya pernah nyaris kecolongan karena meremehkan keterampilan motorik anak saya. Saya selalu berfikir anak saya belum bisa membuka botol obat. Tenyata dia sudah mahir sekali dan nyaris meminum obat tanpa sepengetahuan saya.
Alhamdulillah, waktu itu ketahuan.
Sejak peristiwa itu, saya lebih hati-hati dalam menyimpan obat.
Yang kedua, jangan pernah meremehkan kemampuan anak.
Semua benda untuk anak adalah permainan.
Mereka akan penasaran dan mencoba-coba semua barang tanpa mengetahui bahayanya. Saya tadi baru saja membaca ada anak yang telinganya berdarah terkena korek (Mirip dengan kasus anak saya).
Yang ketiga, coba cari second opinion bila ada diagnosa dokter yang agak mengerikan.

Yang terakhir, kadang DIA mengajari kita dengan cara-Nya sendiri.
Meskipun kadang menyakitkan, tapi pelajaran yang kita dapat akan lebih mengena dan bermanfaat.
Ada sebuah kalimat yang menenangkan hati saat sedang galau, bahwa setiap kesedihan dan penyakit bila diterima dengan sabar pasti akan ada imbalannya, salah satunya adalah surga!


Untuk siapapun yang memiliki anak kecil, tolonglah perhatikan cerita saya. Mudah-mudahan dapat menjadi pengalaman dan pelajaran yang berharga. 
Selalu berhati-hati dan waspada. Kenyataannya rumah adalah tempat yang -bisa- berbahaya untuk anak. 
Banyak kecelakaan yang terjadi justru saat anak berada di dalam rumah!
Be careful...