Kata orang, sebodoh-bodohnya keledai adalah yang terjatuh dua kali di lubang yang sama.
Satu minggu, dua kecelakaan.
Lalu aku ini apa?
Lebih parahkah dari keledai? (hiks, sediiih!)
Menemani anak-anak berenang adalah kegiatan yang menyenangkan. Tertawa, asyik bermain air, semua bergembira. Tapi, keriangan pagi itu pecah saat terdengar pekik ngeri guru renang.
Oca terjatuh.
Tergeletak di bawah shower, terbanjiri air.
Tergopoh-gopoh kami menolongnya.
Berbagai macam perasaan campur aduk.
Panic attack!
Bagiku,
Seperti melihat slide yang berputar. Belum satu minggu ini aku dengan tangan gemetaran menggendong anakku ke ugd. Belum ada satu minggu!
Tragedi itu terulang lagi.
Terjadi lagi.
Bayangan anakku, ugd, dan oca yang tergeletak di lantai silih berganti memenuhi ruang kepalaku. Berakhir dengan kepala serasa dipukul dengan ribuan godam.
Pusing.
(sungguh buruk manajemen stressku)
Keramaian di ruang makan tidak menghentikan air mataku.
Aku menangis.
Meskipun air mata itu tidak perlu tumpah, aku menangis.
Aku tidak butuh alasan untuk menangis.
Hanya karena aku ingin.
Aku takut.
Sungguh, aku sangat takut.
Hanya karena ingin sedikit mengurangi takut itu, maka aku menangis.
Segelas besar air putih dan beberapa kali menghirup nafas panjang mampu menjernihkan pikiranku lagi. Tidak lagi seperti zombie -badan yang terlihat tegak, tapi pikiran kosong tak menentu. Harus segera membawa oca ke rumah sakit.
Yeah, lagi-lagi ugd.
Menyebalkan, tapi harus dilakukan. Aku tidak bisa menunggu lama untuk segera memastikannya baik-baik saja.
Kata dokter, tidak apa-apa, tapi harus waspada 8 jam ke depan. Bila muntah, pusing, atau panas harus segera dibawa ke rumah sakit.
Still waiting.
Menunggu memang menyebalkan.
Tapi, hanya itu yang bisa dilakukan.

No comments:
Post a Comment