Hari Sabtu,
Ada sms dari bulik. Katanya, sepupuku yang dari Jakarta akan mampir mumpung ada acara di Yogsya. Sepupuku yang terakhir kali kulihat 6 atau 7 tahun yang lalu. Saat kami berdua sama-sama masih sendiri.
Karena pagi hari aku ada meeting, sengaja aku akan ke tempat bulik agak siang saja tapi ternyata agak siang-pun belum ada tanda-tanda sepupu datang.
Lepas dhuhur adekku dan bulik bergantian sms. Sampai aku agak bingung. Ini siapa yang sms, kok no bulik tapi bahasanya adekku.
"Cepet dong ke tempat bulik. Sekarang ya..."
Sekian detik kemudian aku sudah ngerumpi di tengah-tengah keluarga besarku -yang semua sedang menunggu kedatangan sepupu satu itu.
Menunggu dan menunggu, rupanya sepupuku itu tidak datang juga.
Dan kemudian dia nelfon.
"Aku nyasar! Ini sampai lempuyangan terus lewat mana?"
Inilah namanya nekat. Enggak tahu jalan asal lewat, tahunya hujan deras malah nyasar ke mana-mana.
Tidak berubah juga kau dek, sudah punya satu anak masih saja nekatnya dipelihara!
Yang ditunggu akhirnya datang juga.
Sepupu datang dengan sumringah, membawa anak dan istri.
Ternyata anakku dan ponakan -yang seumuran- tidak akur. Ponakanku -yang mukanya china abis, dengan mata sipit dan rambut lurus mirip rambutan- gemes melihat ada teman langsung ngajak anakku bercanda.
Anakku yang tidak suka berteman dengan anak seumuran langsung lari sambil siap-siap memukul.
Wehh, gawat-gawat-gawat!
Pusing misahnya. Tapi seru.
Tidak sampai lima belas menit, sepupuku pamit.
Kami nunggu seharian lho, dek, masa' tidak ada ngobrol, tidak ada makan bareng, langsung aja pamit. Tapi ya udahlah, perhaps next time saat kamu punya waktu banyak.
"Maaf, ada acara lagi. Tadi kelamaan nyasar sih!"
Salah siapa mengandalkan GPS, padahal kalau mau telfon dulu, nanya jalan, pasti enggak pakai acara nyasar segala.
Kecewa.
Pasti semua begitu.
Tapi ya sudahlah. Tokh, semua sudah berkumpul. Acara dilanjutkan lagi dengan ber-haha hihih kemudian makan sop buntut bersama.
Aduh, dek...
Kamu melewatkan satu hal penting. Sop buntut masakan bulik yang rasanya aduhai itu lho. Andai tidak terburu-buru tentu kamu ikut menikmati masakan bulik yang dari dulu "selalu menggoda" itu.
Ingatkah kamu,
Saat kita masih kecil dulu, setiap kamu dan orang tua mudik, pasti acara makan bersama tidak pernah terlewatkan. Pasti papa kamu dan om-om langsung menyulap kepala kambing jadi santapan yang luar biasa enak. Masak bersama, makan bersama, berakhir dengan mencuci bersama.
Tradisi itu masih berlanjut hingga sekarang, ya dengan anggota yang sudah berkurang jumlahnya.
Hujan yang masih saja turun meski hari telah gelap.
Ponakan-ponakan masih saja lari-lari di antara meja kursi.
Aku yang masih saja memegang piring di tangan.
Kata ibuku sambil melirik: "Ponakan lari-lari tak berhenti. Itu makan terus tak berhenti."
Sepupu perempuan terkekeh.
"Berapa mbak?"
Kujawab: "Lima. Tapi pakai nasinya cuma satu kali kok. Yang lain sayurnya thok. Sesi pertama tiga kali ambil. Sesi dua cuma dua kali."
Wahh, ini rakus apa doyan?



No comments:
Post a Comment