Saat pulang dari rumah sakit suami berpesan, "Tidak usah cerita kepada bapak-ibu tentang telinga zayyan, daripada dimarahi."
Kujawab dengan ringan bahwa tanpa aku ceritapun pasti mereka tahu. Tidak mungkin zayyan diam. Dia pasti cerita lebih dulu. Yakin, baru masuk rumah saja dia bakalan cerita macam-macam.
Dan benarlah.
Tebakanku 100% jitu.
Semua terkendali.
Tidak ada amarah dari orang tua. Hanya wanti-wanti agar lebih berhati-hati menjaga anak.
Beberapa telfon berdatangan.
Sekedar bertanya tentang kabar zayyan.
Menjawabnya saja sudah membuat mataku sembab.
Apalagi ditambah cerita: "Tahu nggak, dulu kan si om pernah juga, ternyata jadi infeksi. Ngobatinya lama. Si embak itu juga pernah, sampai harus operasi, gagal. Jadinya seperti itu."
Please, deh.
Itu tidak membantu.
Benar-benar tidak membantu.
Please, deh.
Itu tidak membantu.
Hanya menambah aku makin pening saja.
Hanya menambah aku makin ngeri saja.
Makin lengkap pula saat zayyan susah diobati.
Jadi tolonglah. Stop!
Please,deh.
Jangan diteruskan.
Itu benar-benar tidak membantu.
Beberapa kawan berkata: "Salam buat zayyan. Semoga lekas sembuh."
Hanya itu.
Thank's alot...
Yang hanya kujawab dengan senyum tipis kemudian dilanjutkan "mengamini dengan sungguh-sungguh" berharap ada malaikat lewat dan ikut mengucap amin dengan sepenuh hati bersamaku.
Maaf, saat ini aku tidak siap mendengar berita buruk.
Aku hanya ingin mendengar: "Tenanglah. Semua akan baik-baik saja."
Sesederhana itu.
No comments:
Post a Comment