Aku lapar.
Tapi setelah mengambil sepiring nasi, hanya aku makan beberapa suap saja.
Entahlah.
Nafsu makanku menghilang tiba-tiba.
Mungkin, karena menu siang ini nasi kuning (yang sangat disukai anak-anak, tapi aku tidak!), atau mungkin asam lambung yang tiba-tiba naik, atau mungkin karena ada sebab lainnya.
Padahal, di luar langit sudah siap menurunkan hujan lagi. Dalam cuaca seperti ini, biasanya kegiatan yang paling menarik adalah makan atau tidur.
Kalau sudah begini, menyesal rasanya pagi tadi bangun kesiangan. Kalau puasa, tentu tidak masalah perut sedikit lapar. Waktu bangun pagi tadi hanya 3 menit menjelang adzan subuh. Ya tidak mungkin makan apa-apa to? Mau puasa tanpa sahur enggak berani. Semalam hanya makan sedikit soalnya. Kalau dipaksa, tentu tubuh ini yang akan protes.
Mungkin perlu makan dengan menu yang agak spicy di lidah.
Semangkuk mie ayam panas dengan lumuran saos dan sambal, serta caisim yang buanyak.
Mmmm, delicious!
Lezatnya mie ayam memang sulit ditolak.
Kebetulan suami dan anak juga menyukainya.
Bila sedang bosan makan nasi, makan mie bisa menjadi pilihan. Mie ayam contohnya, dalam semangkuk mie ayam sudah didapatkan gizi seimbang. Karbo, protein, sayur, semua sudah lengkap dalam satu sajian.
Apalagi ramen.
Ramen lebih memenuhi syarat tersebut, kecuali porsinya yang kelewat besar dan juga harganya yang lebih jumbo.
Kalaupun terpaksa, mie instan bisa jadi pilihan. Asal jangan lupa rebus dua kali lalu saring dan buang airnya. Jangan lupakan juga ditambah sayur dan lauk.
Asal jangan salahkan aku kalau tambah gemuk lho ya!


No comments:
Post a Comment