Ada satu tempat di muka bumi ini yang paling tidak ingin aku kunjungi.
Rumah sakit.
Ya, rumah sakit adalah tempat yang paling tidak ingin aku kunjungi.
Dan semalam aku terpaksa pergi ke sana.
Saat hari sudah gelap, saat hujan seperti ditumpahkan dari langit, terdengar jeritan panjang zayyan.
Anakku, yang sedang bermain cotton bud -entah dari mana dia dapatkan- menangis dengan keras.
Aku sedang menyapu dan suami bersiap mengeluarkan motor untuk menjemput adikku yang terjebak hujan.
Dengan suara pelan dia mengingatkan: "Awas. Zayyan pegang cotton bud."
Sapu kutinggal, kubiarkan tergeletak begitu saja dan segera melihat zayyan yang sedang memegang cotton bud.
Dengan hati berdebar, aku diam saja tidak berkata-kata agar zayyan tidak kaget. Dan jantungku nyaris berhenti berdetak ketika cotton bud itu tidak dikeluarkan dan ditinggal begitu saja di telinga.
Karena zayyan duduk dengan tenang, kuulurkan tanganku hendak mengambil cotton bud itu. Namun zayyan melihat gerakan tanganku.
Dia menghindar dan malangnya -sampai sekarang masih kusesali- malah menyenggol pergelangan tangan.
Dia menjerit kesakitan.
Anakku menjerit kesakitan!
Panic attack.
Dengan panik kugendong dia sambil menenangkan tangisnya.
Saat kulirik telinganya, jantung ini rasanya seperti dicabut dari tempatnya dengan paksa.
Telinga anakku berdarah.
Cukup banyak karena sampai menetes.
Makin Panik.
Takut.
Gemetaran.
Frustasi.
Dengan badan gemetaran dan kepala pening luar biasa, satu tangan menggendong zayyan, tangan yang lain sibuk memencet telefon.
Kuhubungi operator 108 meminta nomor emergensi, meskipun yang aku cari adalah dokter THT.
Ada nomor berbagai rumah sakit di buku telfon sebenarnya, tapi aku ingin yang segera dapat dihubungi. Lebih praktis daripada membolak-balik lembaran buku.
Kuhubungi beberapa rumah sakit, semuanya mengatakan kalau dokter THT hanya buka praktek pagi.
Tinggal satu kesempatan.
PKU.
Harap-harap cemas, kuhubungi bagian informasi.
Hati sedikit lebih lega ketika suara di seberang mengatakan bahwa ada dokter THT praktek malam.
Alhamdulillah.
Di tengah hujan lebat, kami bawa zayyan ke Rumah Sakit.
Semoga semua baik-baik saja, hanya itu harapan kami.
Kutangisi anak itu sepanjang jalan, kubisikkan juga permintaan maaf dan bahwa kami sayang sekali padanya.
Dia diam.
Tak bergerak.
Tak berkata-kata.
Aku panik lagi.
Kupanggil keras-keras.
Tetap tidak ada suara.
Makin Panik.
Kupegang tubuhnya masih terasa hangat.
Pingsankah dia, atau tidur, atau apa?
Di front office aku berharap ada dokter di sana (walaupun menurut jadwal belum dimulai) dan ketika kujelaskan situasinya, aku langsung diajak ke UGD.
Aku menurut saja.
Berharap hati ini lebih tenang.
Ternyata di UGD tidak banyak membantu, mereka bilang memang harus bagian THT yang menangani.
Dan kutanyakan pada dokter itu, seberapa parahkah lukanya?
Dia jawab bahwa lukanya dalam.
Perforasi.
Ada membran yang sobek.
Air mata ini tak bisa dibendung lagi.
Penangannanya biasanya melalui membrano plasty.
"Operasi dok?"
Baju yang basah, badan yang gemetaran, kepala yang terasa pening, campur aduk jadi satu di ruang UGD itu.
Ada perasaan yang sangat sakit jauh di lubuk hati sana.
Sang dokter mengeluarkan kertas, digambarkannya struktur telinga. Dijelaskan di sana sini, bagian mana yang luka, dan air mata ini makin tak terbendung.
Sang dokter melipat kertas itu, meremasnya.
"Nanti biar di cek lagi di THT, tunggu saja dulu,"katanya.
Aku merana.
Kugendong anakku dengan kacau keluar dari UGD menuju ruang ruang tunggu poli THT, suami sudah menunggu dengan muka yang tidak kalah kusut denganku.
Kubilang pada suami bahwa kata dokter, ada membran yang sobek.
Dia tidak berkata-kata hanya menepuk bahuku.
Kami sama-sama terluka.
Kami sama-sama merana.
Maaf nak, aku tidak bisa menjagamu dengan baik.
Ketika aku tak sanggup lagi berdiri (stress berat) suami gantian menggendong.
Mereka berjalan-jalan entah ke mana aku tidak tahu.
Aku hanya duduk di ruang tunggu.
Sendiri.
Sedih.
Susah
Menangis. (walau aku tahu itu tidak membantu)
Takut.
Sangat takut.
Amat sangat takut.
Tak berdaya.
Apapun diagnosa dokter, akan aku terima.
Mungkin memang sudah digariskan dari atas, jadi apapun itu akan aku terima dengan lapang dada (aku sempat berfikir, apakan ini teguran dari-Nya).
Muka dokter tidak berubah sebelum dan sesudah memeriksa zayyan.
Aku tidak sempat mendengar kata-kata dokter karena sibuk menenangkan zayyan.
Kuajak zayyan ke ruang tunggu.
Suami masih konsultasi dengan dokter.
Zayyan sudah ceria lagi.
Sudah bernyanyi-nyanyi.
Tapi aku masih menangis.
Aku masih ketakutan.
Sangat takut.
Sedih dan tak berdaya.
Zayyan pandangi wajahku.
Dia pegangi wajahku.
"Mi, jangan nangis ya," pintanya.
Kupeluk erat-erat anakku itu.
Air mata ini kian tak terbendung.
Suami keluar dari ruang dokter sambil tersenyum.
"Udah. Nggak apa-apa kok," katanya sambil mengusap air mataku.
Lukanya tidak sampai dalam.
Hanya terkena di liang telinga. Ibarat tangan, kalau terkelupas kulitnya akan mengeluarkan darah.
Begitu juga dengan telinga.
Thats all.
Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Alhamdulillah.
Tidak ada kata lain yang pantas selain memuji-Nya.
Hujan reda saat kami pulang dari rumah sakit.
Temaram lampu-lampu di jalanan terasa makin indah saja.
Zayyan pulang sambil bernyanyi riang.
Hanya aku yang masih 'sakit', masih takut.
Air mataku masih saja berlinangan.
Aku terlanjur shock mendengar penjelasan dari dokter di UGD (aku tahu sih, bukan maksudnya menakuti, bukan maksudnya pula mendiagnosa, tapi sungguh, aku takut. Sangat takut. Aku tidak bisa mengingkarinya).
Kuyakinkan hati, bahwa semua akan baik-baik saja.
Everything gonna be alright
No comments:
Post a Comment