Sunday, May 1, 2011

Suami dan Futsal


Kamis malam adalah jadwal suami main futsal bersama dengan teman-temannya.
Biasanya suami menolak bila ada yang mengajak futsal, sekeras apapun membujuknya. Alasannya sederhana: membantu anak kelas 9 mempersiapkan ujian nasional.
Setelah ujian nasional selesai, mau-tidak mau suami harus menepati janjinya untuk futsal bersama.
Saya agak cemas ketika melepas suami pergi!
Seharian suami belum istirahat. Pagi di sekolah, siangnya ada undangan dari dinas, maghrib-pun acaranya belum selesai. Pulang ke rumah hanya ambil air dan baju ganti. Kemudian pergi lagi.
Tiba-tiba berkelebat di benak saya tentang seorang public figure yang colaps setelah seharian bekerja masih dilanjutkan dengan football dengan teman-temannya.
Tidak salah bukan, kalau saya cemas?
Akhirnya, mau-tidak mau saya melepasnya pergi dengan catatan untuk tidak terlalu capek, karena tidak mungkin suami menolak lagi.

Sebelum berangkat -seperti biasa- saya tanyakan berapa lama dia keluar. Bukan apa-apa, kalau terlalu malam lebih baik saya kunci rumah saja dan tidur duluan. (^-^)
Dia jawab hanya satu jam.
Satu jam berlalu dan belum ada tanda-tanda suami pulang. Ah, paling sebentar lagi, batin saya.
Sebentar pun berlalu.
Masih belum ada tanda-tanda suami pulang juga.
Lalu ada sms di hp suami yang ketinggalan.
Ups, what happen?
Ternyata bukan sms penting dan dari jauh sudah ada suara motor suami.
Lega. Sepertinya dia tidak kenapa-kenapa.

Wait!
Ada yang aneh...
Tidak ada capek, tidak ada kaos yang basah, tidak ada tiduran....Malah menyalakan komputer.
"Gimana futsalnya?"
"Baik."
Saya masih menunggu kalimat dibelakangnya.
"Cuma sepuluh menit kemudian muntah muntah. Biasa, cardiovaskuler tidak terlatih."
"Lalu ngapain selama itu?" tanya saya sambil menahan tawa.
"Keluar lapangan. Tidur."
"HA!"
Pantas...

No comments:

Post a Comment